Tujuan Penciptaan Manusia

Apa tujuan manusia diciptakan hayo?….

Jawabannya tergantung kepada siapa anda bertanya.

Kalau anda bertanya kepada ustad, maka ia akan mengutip Firman Allah di Adz-Dzariyat: 56:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu

Okelah, saya tidak akan mendebat hal ini. Toh tidak boleh didebat.

Apakah ada jawaban lain? .. Ada, dan ini yang akan saya sampaikan di tulisan ini.

Manusia Hanya Media, Alat Pelestari Kode

Ups… gila apa? Manusia adalah mahluk tertinggi derajatnya disisi Allah, serta berada di puncak evolusi mahluk hidup. Manusia memanfaatkan seluruh alam ini, manusia adalah wakil Allah di bumi ini. Bagaimana mungkin ia hanya sebagai media, yang berarti sekedar alat? trus kode apa yang kamu maksud?

Sabar dulu….

Kode yang saya maksud adalah kode genetis kehidupan, Genom.

Jika diumpamakan, Genom manusia adalah sebuah kitab.
Kitab ini berisi dua puluh tiga bab yang disebut KROMOSOM.
Tiap bab berisi beberapa ribu cerita yang disebut GEN.
Tiap cerita tersusun dari paragraf-paragraf yang disebut EKSON, yang diselang-seling dengan iklan yang disebut INTRON.
Tiap paragraf terbentuk dari kata-kata yang disebut KODON.
Tiap kata ditulis dalam huruf-huruf yang disebut BASA. *)

DNA, alat atau tujuan kehidupan?
DNA, alat atau tujuan kehidupan?

Kita memperoleh genom ini dari orang-tua kita, orang-tua kita memperolehnya dari orang-tua mereka. Genom manusia berusia ratusan ribu tahun, disalin dari generasi ke generasi. Dan akan disalinkan terus ke anak cucu kita.

Induk genom ini muncul pertama kali sekitar 4 milyar tahun yang lalu dalam organisme sederhana yang pertama kali hidup. Genom mengelak dari kematian dengan jalan menyalin dirinya ke generasi berikutnya melalui inang yang didiaminya. Inang? ya mahluk hidup adalah inang dari genom.

Genom selalu mencari jalan paling efisien untuk melestarikan dan menduplikasikan dirinya. Genom seolah-olah mempunyai kecerdasan luar biasa untuk memastikan dirinya disalin ke semua pelosok alam ini.

Pohon Genom Dibalik Pohon Evolusi

Sejak muncul pertama kali dan sampai ke kita, genom telah mengalami penyalinan sekitar 50 milyar kali.

Apakah sama genom pertama dengan genom yang didarah kita?

Tidak!

Pohon Evolusi, refleksi hasil kerja genom
Pohon Evolusi, refleksi hasil kerja genom

Genom bermutasi.

Dalam tiap penyalinan, ada kode yang diubah, ditambah atau dibuang.

Mahluk pembawa genom itu lahir untuk diuji berhadapan dengan seleksi alam yang ganas.

Jika kode itu unggul, ia akan selamat dan mewariskan kode itu ke generasi berikutnya.

Jika kode itu membawa sial, mahluk pembawanya tidak akan selamat melawan seleksi alam, ia akan terlindas, dan kode itu berhenti pewarisannya.

Akibat proses diatas, ada banyak versi genom yang ada di dunia ini. Masing-masing adalah mewakili kode-kode yang terbukti unggul dan bisa bertahan.

Representasi beragamnya genom dapat kita lihat dari riuhnya dunia ini dengan beragam spesies mahluk hidup.

Dari manusia yang sok tahu sampai panu yang menjengkelkan di kulit manusia yang jorok… Semuanya terlahir berdasarkan cetakan genom yang yang digunakan orang-tua mereka.

Pohon Evolusi mahluk hidup adalah cermin dari pohon keluarga genom.

Persaingan spesies, adaptasi lingkungan mahluk hidup, bahkan perkembangan peradaban manusia adalah gula-gula yang ditawarkan genom kepada mahluk hidup untuk memastikan dirinya terduplikasi kepada pelestari kode unggulan.

Ya! kita hanyalah pelestari kode genom, kehidupan kita adalah bonus dari tujuan utama kita: menyalin genom ke generasi berikutnya.

Bila kita bertanya kepada genom, “Apa tujuan penciptaan manusia”?

Jawabannya adalah:

Aku tidak menciptakan mahluk hidup dan manusia melainkan agar mereka melestarikan diriKu

Maha benar Genom dengan segala perkataannya….


*) Dikutip dari tulisan Ryu Hasan: Menuju Kekekalan

Baca Juga:

Judhianto

Pencari jawab amatir, bertanya apa saja...

79 tanggapan untuk “Tujuan Penciptaan Manusia

  • 24 Juni 2011 pada 2:45 pm
    Permalink

    oh jadi GENOM toh yang menciptakan mahluk hidup dan manusia itu… ckckckck..

    Balas
  • 24 Juni 2011 pada 4:07 pm
    Permalink

    maaf kalo saya gak percaya, karena yang saya yakini teori penciptaan cerdas bukan teori evolusi karangan darwin yang banyak cacatnya……….

    Balas
  • 14 Juli 2011 pada 2:02 am
    Permalink

    maaf saya msh kurang faham tentang mengenai Genom tersebut. Genom tersebut itu sebenarnya apa si,sejenis mahluk hidup atau bkn atau apa ya? mohon di jawab dngn sejelas-jelasnya.

    Balas
    • 14 Juli 2011 pada 6:41 am
      Permalink

      Iwel: Menurut wikipedia, genom adalah keseluruhan bahan genetik yang membawa semua informasi pendukung kehidupan pada suatu makhluk hidup, baik yang merupakan gen atau bukan. Genom ini terdapat pada semua sel mahluk hidup, dari bakteri sampai manusia. Untuk referensi dapat dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Genome .

      Balas
  • 22 Oktober 2011 pada 8:54 am
    Permalink

    Kalo yang menciptakan genom siapa Pak?
    Tampaknya bapak ini kritis sekali sama Ayat-ayat Alloh (Al Qur’an) dan berupaya membantah setiap ayatNya…
    Kalo boleh saya tahu bapak kuliah dimana? trus siapa yang membiayai bapak selama ini?

    Balas
    • 22 Oktober 2011 pada 10:05 am
      Permalink

      Deri: Mau jawaban mudah atau susah?
      Jawaban mudah: semua adalah ciptaan Allah, masalah selesai, anda bisa tenang.
      Jawaban susah: semua itu proses alamiah yg berawal dari big bang dan dilanjutkan evolusi biologi. Apakah sudah final? Belum tentu benar, mungkin kelak akan ada teori ilmiah lainnya yg menggusurnya. Sains adalah pencarian terus menerus yg gelisah. Bila mencari ketenangan, sains bukanlah tempatnya.
      Membantah Qur’an? Sama sekali tidak. Bila kita tahu menempatkan konteksnya, Qur’an adalah sempurna. Yang jadi masalah adalah bila kita serampamgan menempatkan Qur’an diluar konteksnya.

      Pertanyaan terakhir tidak saya jawab, OOT.

      Balas
        • 10 Maret 2012 pada 10:09 am
          Permalink

          @Supriatna: dalam mekanika kuantum ada prinsip ketidakpastian Heisenberg dimana posisi dan momentum partikel tidak bisa dipastikan bersamaan.

          Implikasinya, ruang kosong mutlak tidak ada, ada fluktuasi nilai yg rata2nya nol. Di ruang kosong selalu ada sepasang partikel yg tercipta spontan dan saling meniadakan dlm sekejap.

          Teori ini dibuktikan dgn radiasi Hawking dari Blackhole. Di event horison blackhole gravitasi menarik salah satu partikel yg tercipta spontan, akibatnya pasangannya yg seharusnya musnah terpancar dari ruang kosong.

          Dengan perhitungan yg lebih rumit, para ahli menemukan bahwa bigbang atau semesta ini bisa tercipta spontan dari ketiadaan, tanpa campur tangan Tuhan.

          Jadi hanya diperlukan hukum alam untuk terciptanya semesta.

          Terus darimana hukum alam? Dan mengapa semua partikel patuh pada hukum alam? Bukannya bisa saja suatu saat partikel tersebut menolak hukum gravitasi?

          Nah itulah yang membuat saya percaya Allah.

          Terima kasih komentarnya.

          Balas
          • 8 November 2013 pada 10:50 am
            Permalink

            big bang juga masih banyak perdebatan. apakah bener ada big bang atau tidak?
            kata bang judhi juga bilang kita harus liat dari beberapa sisi. jangan hanya satu sisi.

          • 8 November 2013 pada 1:25 pm
            Permalink

            @AirMineral: perdebatan? tentu, lah banyak sekali teori yang bisa muncul dari berbagai ahli..

            Yang penting kita mau membuka diri terhadap berbagai pandangan yang bisa berbeda. Lalu karena mungkin keahlian kita tidak disitu, kita bisa mengacu kepada jumhur saintis (pendapat mayoritas ahlinya – kalau agama kan jumhur ulama).

            Sementara ini jumhur saintis sependapat bahwa sekitar 14 milyar tahun yang lalu terjadi big-bang, yang nolak tentu ada, tinggal dilihat saja argumen dan kredibilitasnya. Jangan sampai teori sains yang dikeluarkan saintis dari hasil percobaan kita tolak dengan teori kitab suci yang dikeluarkan ahli agama dari hasil pelajari ayat — gak nyambung.

          • 20 Agustus 2015 pada 5:35 am
            Permalink

            Tolong perjelas jawaban mudah dan jawaban susah versi anda!
            karena menurut jawaban mudah dan jawaban susah versi anda, sangat
            bertentangan. jelas terjadi penyimpangan dan akan menyesatkan.

            allah yang anda maksud yg mana? allah yang di salib? genom? sains? atau hasil pemikiran bebas anda yg dijadikan allah? menurut versi anda.
            itu gambar cabang evolusi menurut versi andakah atau dari siapa? jadi menurut versi anda betulkah asal manusia dari genom? maka pencipta manusia itu genom begitu kah?
            terus darimana datangya hukum alam? siapa yang menciptakan hukum alam? kehendak sendiri kah?
            jadi konteks al quran itu apa saja ruang lingkupnya?
            jika tujuan manusia dilahirkan menurut versi al quran utk ibadah bagaimana menjalankan ibadah yang benar itu?
            jika tujuan manusia dilahirkan versi genom utk melestarikanku bagaimana melestarikan (apa/kpd siapa objek yg harus dilestarikan).yang benar itu?
            yang membuat anda percaya allah yang mana diantara 2 pilihan tersebut? pertama, jika versi al quran. semuanya adalah ciptaan allah (hukum alam, alam semesta dan seisinya,ruang, waktu, spontan,manusia,genom,dll ),
            kedua, apakah anda parcaya allah karena ada peristiwa bigbang/tercipta alam semesta secara sepontan tanpa campur tuhan?
            kedua versi ini secara logika terlihat bertentangan ya? jadi bagaimana sikap anda?
            anda menganut agama/kepercayaan apa? kenapa memilih kepercayaan tersebut?

            semoga jawaban anda bisa memberikan solusi pencerahan hidup benar kepada saya dan mewakili org2 yg kegelisahan dengan ilmu sains. terimakasih

          • 20 Agustus 2015 pada 8:30 pm
            Permalink

            @Dian: yang menarik saya komentari pertama adalah istilah yang anda gunakan yaitu penyesatan dan penyimpangan. Sesat dan nyimpang adalah istilah subyektif untuk pandangan di luar pandangan yang dianggap lurus dan benar menurut orang yang menuduh.

            Orang Kristen itu sesat dan menyimpang menurut orang Islam, tapi orang Islam juga sesat dan menyimpang menurut orang Kristen. Itu hanya istilah yang penting bagi orang yang tak berani mikir di luar cara mikir kelompok yang ia ikuti, bagi saya gak penting.

            Misteri yang dihadapi manusia
            Alam, keberadaan manusia, tujuan hidup dan Tuhan – itu adalah topik yang selama ribuan tahun dianggap misteri yang tak terjangkau pikiran manusia. Pada masa lalu, ketika manusia belum mengembangkan ilmu pengetahuan yang terstruktur, hanya agama dan kepercayaan yang menyediakan jawaban untuk misteri itu.

            Saat ini pengetahuan manusia sudah berkembang sedemikian majunya, misteri alam mulai satu persatu terkuak.

            Darimana semua materi, ruang dan waktu?
            Dari mekanika quantum, ada quantum fluctuation yang tidak memungkinkan kekosongan atau ketiadaan materi, ruang dan waktu. Ketiadaan itu keadaan yang tidak alami, konsekwensinya jika ada ketiadaan, maka keadaan itu tidak mungkin berlangsung lama. Dari prinsip ini, materi, ruang dan waktu muncul begitu saja dari kekosongan. Big-bang terjadi spontan begitu saja dari ketiadaan, tidak perlu ada Tuhan yang secara khusus menciptakan semesta ini.

            Darimana manusia?
            Begitu tercipta, materi akan mengikuti hukum alam dan berevolusi lebih lanjut membentuk bintang, planet, galaksi dan akhirnya kehidupan.
            Kehidupan lalu berevolusi dari bentuknya yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Manusia hanyalah salah satu spesies hasil evolusi biologis, di masa depan bisa jadi punah dan tergantikan oleh spesies yang lebih kompleks lagi.

            Keistimewaan manusia?
            Bumi kita tidak istimewa, ada trilyunan planet lain di semesta ini. Kehidupan di Bumi tidaklah istimewa, molekul biologis yang kompleks juga ditemukan berlimpah di luar angkasa. Kita belum mampu meneliti planet-planet di luar tatasurya kita apalagi di luar galaksi kita, bisa jadi mahluk secerdas manusia atau bahkan melebihi kita ada diantara trilyunan planet di luar sana.

            Tujuan hidup?
            Secara biologis tujuan hidup manusia sama dengan semua mahluk hidup lainnya, yaitu berkembang biak dan meneruskan keturunan.
            Tujuan hidup lainnya?
            Itu ditentukan oleh budaya manusia, seperti berbakti pada orang tua, negara, Tuhan atau atas pilihan manusia sendiri.

            Apa pondasi semua realitas?
            Terciptanya semesta, kehidupan dan manusia secara garis besar prosesnya dapat diketahui dari sains. Semuanya berjalan menurut hukum alam yang bisa dibaca melalui sains. Hukum alam adalah landasan semua realitas yang kita ketahui.

            Lalu darimana hukum alam? Adakah Tuhan?
            Apakah hukum alam ada begitu saja atau ada yang menciptakannya? ini adalah wilayah yang tak terjangkau sains, tak terjangkau pengamatan manusia. Mengatakan ada sesuatu atau tidak ada sesuatu di wilayah itu adalah sepenuhnya spekulasi.

            Theis, Athesi dan Agnostik
            Ada yang berspekulasi mengatakan “ada Tuhan” – mereka Theis, ada pula yang mengatakan “tidak ada apa-apa di sana” – mereka Atheis, dan ada pula yang mengatakan tak ada manfaatnya menebak-nebak sesuatu yang tak bisa dibuktikan – mereka Agnostik.

            Saya memilih berspekulasi “ada Tuhan” walau saya tak punya bukti apa-apa.
            Kalau ada yang berspekulasi bahwa “tidak ada Tuhan”, atau “tak perduli ada Tuhan atau tidak” saya tidak akan menganggapnya sesat, karena Tuhan sepenuhnya wilayah spekulasi – wilayah percaya/tidak percaya – wilayah Iman. Gak perlu bukti dan memang tak ada buktinya.
            Dalam Hadits Qudsi sendiri Tuhan berkata: “Aku sebagaimana persangkaan hambaku padaku” – Dia adalah sangkaan/spekulasi.

            Mengenai agama?
            Itu adalah hasil budaya manusia untuk mendekati apa yang disebut Tuhan, tak lebih. Dan saya menggunakan agama yang sudah saya kenal sejak kecil. Bukan karena itu lebih benar atau lebih suci dari agama yang lain, melainkan agama itu sudah menjadi identitas sosial saya sejak bayi.

  • 3 November 2011 pada 10:16 am
    Permalink

    Salaam
    salaam,

    Versi Quran

    Dan
    aku tidak menciptakan jin dan
    manusia melainkan supaya mereka MENGABDI kepada-Ku
    (51:56)

    Versi Genom (interpretasi)

    Dan
    aku tidak menciptakan jin dan
    manusia melainkan supaya mereka melestarikanKU

    Hubungan 2 versi itu nampaknya baik2 saja, tak ada yang bertentangan, apapun
    maunya Tuhan dengan makhluk ciptaanNya. Dia Maha Kuasa, menentukan segala
    sesuatu, makhluk harus mengabdi. Apa yang bisa kita lakukan? Apapun interpretasi
    manusia atas tujuan penciptaan.

    Sudah terlanjur kita ini ditakdirkan hidup di dunia gak kita minta, ujug2 lahir, tak bisa memilih, apa yang bisa kita lakukan. Terserah kita, toh kita dianugrahi FREE WILL  kok sama Dia. Tidak ada paksaan dalam beragama dan dalam hal apapun. Masalah konsekuensinya spt apa, atau bahkan konsekuensi nya ada atau tidak, itu sih urusan nanti saja stlh mati. What next? Tak ada orang mati yang menceritakan, tak ada orang mati berbisik2 sharing pengalamannya stlh mati. Misteri

    Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah
    kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar? (19:98)

     

    Balas
    • 3 November 2011 pada 12:01 pm
      Permalink

      @Titus Vespasianus: Saya senang melihat cara pandang anda. Dunia ini bisa dilihat dengan mata (fakta, rasio & sains) dan dirasakan dengan hati (makna, rasa & kepercayaan).
      Keduanya tidak mesti sejalan. Kearifan kita untuk menerima keduanya yang membuat hidup ini indah dan berarti.

      Balas
  • 3 November 2011 pada 4:26 pm
    Permalink

    hmm..ini pelajaran evolusi tingkat dasar..dan sayangnya saya lupa-lupa ingat…saya darwinist juga, tetapi dari tulisan itu, kok kesannya manusia ibarat Robot, dirakit oleh yang namanya “tuhan” Genom…Apakah tidak ada “Faktor X” yang menentukan arah hidup kita…
    apakah faktor –apa yang saya sebut Psikis–dikendalikan Genom, sehingga rasa haru, bangga, kecewa, khusyuk adalah ekpresi -ekspresi yang sepenuhnya “dari sononya” bukan khas Pribadi yang bersangkutan..kalau begitu mana sisi UNIK dari manusia secara individu yang bersifat sangat personal…..
    r

    Balas
    • 3 November 2011 pada 5:27 pm
      Permalink

      @Ryono: Kalau menurut sains, itu adalah proses brutal tanpa tujuan.
      Akan tetapi kita tidak boleh memutlakkan sains, ia akan gugur bila ada penjelasan lain lebih baik. Bisa jadi kesadaran bukanlah hasil murni interaksi materi dalam hukum fisik standar, jangan-2 ia adalah pintu ke arah teori realitas yang lebih baik, misalnya teori kesadaran quantum http://en.wikipedia.org/wiki/Quantum_mind

      Balas
  • 16 November 2011 pada 12:54 am
    Permalink

    Big Bang semestinya ledakan terbesar yang pernah ada.
    Setiap ledakan biasanya menimbulkan kekacauan.
    Yang terjadi milyaran tahun setelah itu saya bisa berdiskusi dengan anda …

    Saya lebih memilih jawaban yang mudah: semua ini diciptakan dengan kesengajaan yang luar biasa.

    Balas
    • 16 November 2011 pada 1:11 am
      Permalink

      Wahyu: Pilihan yang bagus.
      Mungkin Sang Pencipta cukup menge-set hukum dan parameter dasar semesta, menghidupkan tombol "On" dan abrakadabra!… kita yang suka bertanya muncul setelah berproses dalam evolusi… Saya sendiri suka tafsiran ini..

      Balas
  • 16 November 2011 pada 1:34 am
    Permalink

    Evolusi pemikiran dan budaya manusia, yang hanya ada dalam sepenggal tipis akhir dari waktu alam semesta ini, mungkin terjadi …

    Jika 'survival of the fittest' betul-betul terjadi, seharusnya hari ini tidak ada lagi kera yang bisa kita jumpai karena sudah musnah akibat evolusi yang menghasilkan manusia seperti kita.

    Balas
    • 16 November 2011 pada 2:26 am
      Permalink

      @Wahyu: Survival for fittest hasilnya akan berbeda tergantung pilihan dari individu/kelompok. Jika nenek moyang manusia tidak memutuskan keluar dari hutan, maka tantangan alam yg dihadapinya akan sama dgn nenek moyang monyet, dan hasilnya kita mungkin tidak berbeda dgn monyet. Karena salah satu kelompok (yaitu nenek moyang manusia) memutuskan keluar dari hutan dan mengembara di padang, mereka menghadapi tantangan alam yg berbeda sehingga membutuhkan adaptasi yang berbeda.

      Sama ceritanya dengan kisah urbanisasi kita. Jika kita berasal dari Jawa dan memutuskan hijrah ke Jakarta, anak-2 kita nantinya mungkin tidak bisa berbahasa Jawa, sedangkan keponakan kita yg orang tuanya tetap di Jawa, tentu masih menggunakan Bahasa Jawa. Kita tidak bisa mengukur dari kacamata kita sendiri. Jika anak kita tidak bisa bahasa Jawa, bukan berarti semua generasi anak kita juga tidak bisa bahasa Jawa.

      Balas
  • 16 November 2011 pada 10:42 am
    Permalink

    Salaam
    salaam,

    Versi Quran
    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka MENGABDI kepada-Ku (51:56)

    Versi Genom (interpretasi)
    Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka melestarikanKU

    Hubungan 2 versi itu nampaknya baik2 saja, tak ada yang bertentangan, apapun maunya Tuhan dengan makhluk ciptaanNya. Dia Maha Kuasa, menentukan segala sesuatu, makhluk harus mengabdi. Apa yang bisa kita lakukan? Apapun interpretasi manusia atas tujuan penciptaan.

    Sudah terlanjur kita ini ditakdirkan hidup di dunia gak kita minta, ujug2 lahir, tak bisa memilih, apa yang bisa kita lakukan. Terserah kita, toh kita dianugrahi FREE WILL kok sama Dia. Tidak ada paksaan dalam beragama dan dalam hal apapun. Masalah konsekuensinya spt apa, atau bahkan konsekuensi nya ada atau tidak, itu sih urusan nanti saja stlh mati. What next? Tak ada orang mati yang menceritakan, tak ada orang mati berbisik2 sharing pengalamannya stlh mati. Misteri

    Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorangpun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar? (19:98)

    Balas
    • 16 November 2011 pada 10:44 am
      Permalink

      @Titus Vespasianus: Saya senang melihat cara pandang anda. Dunia ini bisa dilihat dengan mata (fakta, rasio & sains) dan dirasakan dengan hati (makna, rasa & kepercayaan).
      Keduanya tidak mesti sejalan. Kearifan kita untuk menerima keduanya yang membuat hidup ini indah dan berarti.

      Balas
  • 16 November 2011 pada 10:46 am
    Permalink

    hmm..ini pelajaran evolusi tingkat dasar..dan sayangnya saya lupa-lupa ingat…saya darwinist juga, tetapi dari tulisan itu, kok kesannya manusia ibarat Robot, dirakit oleh yang namanya “tuhan” Genom…Apakah tidak ada “Faktor X” yang menentukan arah hidup kita…
    apakah faktor –apa yang saya sebut Psikis–dikendalikan Genom, sehingga rasa haru, bangga, kecewa, khusyuk adalah ekpresi -ekspresi yang sepenuhnya “dari sononya” bukan khas Pribadi yang bersangkutan..kalau begitu mana sisi UNIK dari manusia secara individu yang bersifat sangat personal…..

    Balas
    • 16 November 2011 pada 10:49 am
      Permalink

      @Ryono: Kalau menurut sains, itu adalah proses brutal tanpa tujuan.
      Akan tetapi kita tidak boleh memutlakkan sains, ia akan gugur bila ada penjelasan lain lebih baik. Bisa jadi kesadaran bukanlah hasil murni interaksi materi dalam hukum fisik standar, jangan-2 ia adalah pintu ke arah teori realitas yang lebih baik, misalnya teori kesadaran quantum http://en.wikipedia.org/wiki/Quantum_mind

      Balas
    • 14 Februari 2012 pada 10:53 am
      Permalink

      @Bali: terima kasih untuk sumbangan linknya.

      Balas
  • 19 Februari 2012 pada 6:04 pm
    Permalink

    entahlah kalau diserakan pada penafsian individu tergantung pada keiman.. tapi coba lah pahami secara rasional adakah unsur ketidak sengajaan dala proses penciptaan?

    manusia memang diberikan Free Will… dan setiap tindakan yang dihasil kan akan diminta pertanggung jawaban kelak(itu dari sudut pandang saya)

    mengenai benar atau tidak, itu kembali pada keimanan induvidu dan itu tergantung pilihan indvidu. karena tidak ada paksaan dalam mengimani-Nya

    dan untuk pembuktianya.. kita kita mememang tidak bisa bertanya pada yang sudah mendahului kita (meniggal), dan jika keimanan/keyakinan itu baru muncul apabila kita melihat dengan mata kepala sendiri, maka kita harus meninggal dulu…

    kehidupan di dunia ini hanya sekali.. jika lankgah-langkah kita berdasakan pilahan kita benar maka selamat kita, dan kita termasuk orang yang beruntung. tetapi jika langkah-langlah itu salah maka sungguh rugilah kita…

    saya rasa sudah seringkalai di sampaikan dan kita pun sudah mafhum tentang ini

    “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu”

    dan saya hanya menyampaikan sebuah pilihan, karena hanya itulah tugas saya..

    Balas
    • 20 Februari 2012 pada 5:47 am
      Permalink

      @Ibnu: pendapat merupakan wilayah pribadi tiap orang, semua berhak memilih sendiri menurut seleranya.
      Terima kasih komennya.

      Balas
  • 21 Juli 2012 pada 5:23 pm
    Permalink

    sekarang ada pencarian partikel tuhan yang bisa menjelaskan teori big bang dan black hole

    Balas
    • 21 Juli 2012 pada 6:25 pm
      Permalink

      @Ale: Penemuan partikel Tuhan yang heboh di media baru-baru ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan.
      Partikel Higgs telah diramalkan secara teori sejak tahun 60-an, akan tetapi karena susahnya minta ampun untuk dibuktikan keberadaannya, beberapa orang menjulukinya sebagai partikel Tuhan. Partikel ini baru bisa dibuktikan pada tahun 2012, setelah sekitar 50 tahun kemudian.

      Balas
  • 4 Agustus 2012 pada 7:05 pm
    Permalink

    Yang saya pahami (dari sisi sains) evolusi tidak memiliki puncak, sehingga menurut saya tidak ada spesies yang lebih sempurna atau tidak lebih sempurna. Pada prinsipnya jika suatu spesies bisa bertahan dan beradaptasi dengan lingkungannya, kita bisa katakan dia “sempurna.”

    Jika ada spesies sempurna, berarti ada “spesies transisi” spt yang digadang-gadangkan keberadaannya oleh para kreasionis. Sejatinya evolusi terjadi secara terus-menerus, sehingga semua spesies yang pernah ada (termasuk manusia) adalah spesies transisi (kecuali jika kita bisa bertahan tanpa perubahan yg berarti selama minimal 10 juta tahun — umur rata-rata suatu spesies yang berevolusi).

    Dominan saat ini, ya. Tapi sebagai spesies puncak evolusi, menurut saya tidak. 🙂

    CMIIW

    Balas
    • 4 Agustus 2012 pada 9:10 pm
      Permalink

      @Rime: benar sekali kalau dikatakan tidak ada puncak dalam evolusi, karena evolusi sendiri berjalan dalam proses yang tak bertujuan. Setiap spesies muncul dan bertahan dalam konteks tantangan lingkungan yang dia hadapi.

      Jika lingkungannya berubah, spesies tersebut harus berubah pula agar bisa bertahan. Manusia juga.

      Sejuta tahun ke depan, mungkin ada kondisi lingkungan (alami atau artifisial) yang tidak akan mampu ditanggung oleh manusia seperti kita. Pilihannya kita berevolusi menjadi manusia jenis baru atau kita tergusur oleh spesies lainnya.

      Terima kasih.

      Balas
  • 21 September 2012 pada 8:56 pm
    Permalink

    @Judhi : Maaf pak, lama klamaan kok kyk bapak nyalahin Agama Ya?? saya memang bukan seorang yang taat Pak, tpi saya yakin Agama bukan hanya sebagai Candu seperti yang di bilang karl mark, tapi agama sebagai panduan kita di dunia ini.
    kalau kitab suci, bisa di telaah isinya untuk ilmu pengetahuan
    kalau Qur’an bsa ditelaah lbh lanjut untuk sains, kan ilmu pertama yang didapat manusia juga dari tulisan, dan nyatanya semua tulisan/informasi terangkum dalam Al’quran,
    klo bpk mnyalahkan agama, mungkin yang mau bapak salahkan orangnya aja pak, yang td bapak sbg ‘tokoh agama’ jngn agama dan kitab sucinya,bgitu pak.

    Balas
    • 22 September 2012 pada 5:54 am
      Permalink

      @Yogi: saya hanya menunjukkan fakta betapa agama tidak bisa diartikan apa adanya sebagaimana anggapan banyak orang. Agama bukan sumber sains, karena ia kedodoran berhadapan dengan sains. Agama bukan sumber hukum, karena banyak hukumnya yang tak lagi cocok dengan kehidupan sekarang.
      Agama itu sumber inspirasi bukan rujukan, manusialah yang bertanggung jawab mengatur dirinya sendiri,bukan sesuatu yang diluar dirinya.

      Tentang segala sesuatu sudah tertulis di Qur’an, itu kan hanya klaim para ustad, apa kredibilitas mereka bicara sains?
      Yang terjadi adalah setiap kali ada penemuan sains, para ustad sibuk mencocok-cocokkan dengan Qur’an. Kalau memang mereka memegang “sumber ilmu”, kenapa bukan mereka yang menemukan segala sesuatu pertama kali?

      Balas
      • 24 September 2012 pada 12:17 pm
        Permalink

        Smua kan Ada proses bapak, seperti di temukannya ilmu pengetahuan pun juga gak langsung cling bgitu
        smua dari Inspirasi juga toh?kan katanya manusia harus ber akal dan berpikir
        saya rasa bukan hanya ustad yang kata bapak adalah sebuah hanya klaim mencocok-cocokan.
        seperti contoh :
        – Prof. TVN Persaud Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba, Kanada.
        “Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. ”

        – Prof. Marshall Johnson Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat.
        “AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. ” ………

        – Prof. Alfred Kroner Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences, Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz, Jerman.
        “AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. ” ……….

        Prof. Shroeder Ilmuwan kelautan dari Jerman
        “Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,” ………..-

        Merenungi Pernyataan Para Ilmuwan Terkemuka di atas,maka kata yang bisa kita ucapkan bisa sudah ada di dalam al-Qur’an,maha benar Allah dalam Firmannya:
        “Sesungguhnya hanya orang-orang berakalah yang dapat menerima pelajaran dalam Al-Qur’an”. Q.S AZ-ZUMAR: 9

        ini ceritaku apa ceritamu, thanks

        Balas
        • 24 September 2012 pada 2:04 pm
          Permalink

          @Yogi: terima kasih untuk memberikan contoh ilmuwan yang takjub melihat kecocokan sains dengan Qur’an.

          Secara personal, tiap orang bahkan ilmuwan bisa mempunyai pendapat yang berbeda atau bahkan berlawanan dalam bidang yang mereka miliki. Anda juga akan bisa menemukan banyak ilmuwan yang menganggap itu hanya sekedar mencocok-cocokkan. Sebagai contoh adalah Stephen Hawking, Richard Dawkins dan banyak lagi ilmuwan yang menganggap itu omong kosong.

          Jika secara individu kita bisa menemukan pendapat2 yg berlawanan dari para ilmuwan, yang mana yang mewakili sains?

          Saat ini yang dinamakan pendapat sains adalah pendapat yang dipresentasikan dalam forum ilmiah atau jurnal ilmiah setelah diverifikasikan oleh banyak ilmuwan lainnya.

          Stephen Hawking adalah nomor satu di bidang fisika teoritis, akan tetapi pendapatnya tentang teori fisika belum dikatakan sahih selama hanya dinyatakan secara personal. Pendapatnya akan sahih bila dipresentasikan dalam forum ilmiah, dimana ia akan berhadapan dan mempertahankan pendapatnya didepan banyak ilmuwan lain yang akan mengoreksi bila itu masih meragukan.

          Jadi apakah ilmuwan diatas menyampaikan pendapat pribadi yang tak diverifikasikan oleh lembaga sains, ataukah pendapat diatas produk dalam forum ilmiah atau publikasi ilmiah? Saya sih tak yakin

          Balas
          • 24 September 2012 pada 2:56 pm
            Permalink

            yups kembali kasih Pak,
            mmmmmmh trus mnurut Bpk ilmuwan mana yg anda yakini?
            Apakah tulisan Si Ryu Hasan itu?

            Sudikah anda menjawab komentar saya, makasih bapak.

          • 24 September 2012 pada 9:11 pm
            Permalink

            @Yogi: saya bukan ilmuwan jadi ketertarikan saya pada sains mungkin hanya pada aspek-aspek permukaan yang saya anggap penting dan mengerti.
            Setiap ilmuwan jago dibidangnya sendiri, untuk hal lain mereka ya seperti kita, kadang ngawur juga. Jadi saya gak punya ilmuwan yang saya yakini, biasa saja…

          • 25 September 2012 pada 12:24 am
            Permalink

            Maksud dari aspek-aspek permukaan itu bagaimana pak?
            dan apa yang mendasari dari bapak penting dan mengeri?
            mmmng bagaimana bapak bisa yakin memilih sains itu penting untuk dimengerti yang ternyata mereka ngawur juga.
            dan anda menggunakan sains itu untuk menggugat kitab Suci
            yang kadang orang pembuat sains itu ngawur?

            maaf terlalu banyak bertanya, Thanks

          • 25 September 2012 pada 2:40 am
            Permalink

            @Yogi: yang saya maksud dengan ketertarikan saya aspek permukaan adalah: selama bisa dijelaskan dengan bahasa mudah, saya tak tertarik untuk menggali lebih dalam ke sisi teknis konsep tersebut.

            Sebagai contoh Stephen Hawking menjelaskan dengan tanpa menyebut satu rumus matematika pun saat menjelaskan black hole dalam buku ‘A Brief History of Time’. Saya mengerti konsepnya tapi saya tidak tertarik untuk mendalami ribuan baris persamaan matematika yang mungkin dipakai penulis untuk sampai pada kesimpulan itu.

            Yang saya sebut ngawur ketika orang berkesimpulan tanpa fakta dan runtutan logika yang bisa diterima.
            Yang ngawur itu bisa siapa saja. Selama ngawur, ya tidak perlu didengarkan walaupun ia ilmuwan atau ulama.

  • 22 September 2012 pada 7:10 pm
    Permalink

    kalo tujuan diciptakan Anda apa ya Pak?

    Balas
    • 22 September 2012 pada 7:47 pm
      Permalink

      @Yogi: tujuan secara obyektif? hanya pembawa gen yang egois.

      Tapi saya bukan hanya bagian kecil obyek realitas, saya adalah pusat realitas subyektif kehidupan saya.

      Secara subyektif tujuan hidup saya mewakili Allah (khalifah) menyampaikan kebaikan di dunia, paling tidak untuk diri saya, keluarga saya dan lingkungan saya. Dan saya bekerja keras untuk realitas subyektif ini.

      Balas
  • 4 Oktober 2012 pada 1:18 pm
    Permalink

    Gen yg egois dan hanya mementingkan diri sendiri itu pendapatnya Richard Dawkins kan?
    Egois itu bahasa manusia. Gen-nya sendiri malah mungkin gak sadar dia sudah bersikap egois :p . Dia kan hanya menjalankan sifat alaminya. Lalu siapa yg memberinya dia sifat itu? Pasti kombinasi partikel-partikel sampai level terkecil yg saling tarik-ulur dalam memberinya sifat. Lalu siapa yg memberi sifat partikel-partikel itu? Hukum alamkah?

    Balas
    • 5 Oktober 2012 pada 1:52 pm
      Permalink

      @Ali Irwanto: benar, egois adalah bahasa manusia untuk hukum alam “menyingkirkan yang lemah”.

      Dari mana itu? itu pertanyaan metafisis.

      Pengetahuan manusia berhenti pada hukum alam sebagai sumber segala sesuatu. Mengatakan ada sesuatu dibalik hukum alam itu spekulasi sains karena tak bisa dibuktikan, Lebih bijak mengatakan “tidak tahu”

      Disisi lain ada agama yang menerangkan segala sesuatu di alam ini dan diluar alam. Klaim-klaim agama tentang alam ini banyak yang terbukti salah (tidak didukung fakta/sains), seperti penciptaan alam dan manusia kisah-kisah luar biasa, dan lain-lain.

      Jika agama berbicara tentang sesuatu yang diluar alam, seperti Tuhan yang menciptakan hukum alam, sains tidak bisa memastikan itu benar atau salah, karena jangkauan sains itu di alam empiris yang nyata. Kita saja yang memilih, mau percaya atau tidak.

      Balas
  • 20 Oktober 2012 pada 1:00 am
    Permalink

    hahahaha…,, menarik!!! hehehe…
    tubuh kita hanya sebuah media bagi genom untuk melestarikan dirinya… hahahaha…
    gak salah… saya setuju….

    tapi saya jg bersukur sekali,,, selain genom yang numpang ditubuh saya…,,
    ada jiwa dan ruh saya yang singgah di seonggok jasad ini…
    ini yang membuat hidup terasa lebih bermakna…
    alhamdulillah… hehehe…

    Balas
      • 1 November 2012 pada 10:56 am
        Permalink

        genom ? apa itu genom ?

        ia hanyalah susunan huruf yang membentuk kata kemudian beberapa manusia menyepakati bahwa itu bisa diartikan kode genetis kehidupan, sehingga sampai sekarang dikenallah istilah itu.

        pernahkah genom itu menyebut sendiri bahwa dirinya itu adalah genom ? ataukah itu hanya kesepakatan beberapa orang manusia ?

        kapan dan dimana genom bersabda ” aku tidaklah menciptakan mahluq hidup dan manusia kecuali agar mereka melestarikanku ?

        ataukah itu hanya bisikan setan agar manusia menyembah genom ?

        maha suci Alloh atas segala apa yang mereka persekutukan

        Balas
        • 1 November 2012 pada 1:00 pm
          Permalink

          @Bayu Ardhianto: kode genetis itu bukan kesepakatan beberapa manusia, tapi realitas. Manusia sudah bisa melakukan rekayasa genetis untuk mengubah beberapa sifat tanaman dan tumbuhan dengan mengubah genom mereka.

          Terima kasih..

          Balas
          • 1 November 2012 pada 4:58 pm
            Permalink

            tolong jawab semua pertanyaan saya ya !

            itupun kalau bisa

          • 1 November 2012 pada 6:33 pm
            Permalink

            @Bayu Ardhiyanto: tanya yang mana?
            Yang genom ngomong? he he.. kok harfiah gitu nangkapnya?
            nanti deh kalo genomnya bisa ngomong …

          • 2 November 2012 pada 5:42 am
            Permalink

            saya itu menggunakan pola pikir anda, yaitu memahami secara harfiah saja,ga pake tafsiran segala, sebagaimnaa anda memahami tekstual ayat al hijr tentang nabi luth as.

            anda tidak konisten dengan pola pikir anda sediri,

          • 2 November 2012 pada 6:37 am
            Permalink

            @Bayu Ardhiyanto: terima kasih untuk penilaiannya.
            Mungkin saya lebih tertarik untuk berdiskusi mengenai tulisan saya daripada membahas lawan bicara saya.

  • 5 November 2012 pada 11:54 pm
    Permalink

    Anda merendahkan derajat diri sendiri sebagai manusia dgn berpendapat kalau kita hanya pelestari genom..berarti anda menyamakan diri anda sendiri dengan seekor bebek yg hanya jadi inangnya genom..
    klo mnurut saya malah genom itu ada & berfungsi untuk mempertahankan sifat kesempurnaan manusia sebagai ciptaan Allah..biar gak ada manusia yang ngelahirin monyet..

    Balas
    • 6 November 2012 pada 5:57 am
      Permalink

      @Julius: manusia sederajat dengan bebek sebagai pelestari genom? iya memang.. bahkan kromosom pertama manusia adalah sama persis dengan kromosom pertama kecoa.
      Merasa rendah? ah anda gampang sekali terhina…

      Balas
      • 6 November 2012 pada 9:36 am
        Permalink

        Tahukah anda kalau perbandingan ini dibuat pada tahun 1987 oleh dua orang ahli biologi bernama Sibley dan Ahlquist..yang menyatakan bahwa 98 % kromosom manusia dan simpanse itu sama…sementara pada tahun 1996, Dr. Don Batten, ahli biologi lainnya, juga menganalisis masalah ini pada tahun 1996 dan menyimpulkan bahwa tingkat kesamaan yang sebenarnya adalah 96,2% dan bukan 98%.
        1,8 % dari 100.000 protein DNA berapa ya??100.000 protein DNA yg ukurannya sepersekianjuta mm,,ada ya manusia yg bisa memetakannya??yakin anda ada yang bisa di tahun 1987?
        sbg perbandingan GPS aj yg pake 8 satelit dalam mengukur permukaan bumi yang segini gede masih memiliki selisih 2-10 meter..
        haruskah kita percaya pada data2 yang belom mutlak???.di kalangan ilmuwan barat pun, tingkat kepercayaan penelitian ini masih rendah..kenapa orang awam harus percaya??

        Balas
        • 6 November 2012 pada 2:32 pm
          Permalink

          @Julius: yang anda sampaikan adalah beda di rincian yang tak berpengaruh pada seluruh konsep tulisan saya.

          Pembacaan seluruh DNA manusia telah selesai dipetakan pada tahun 2003 lewat Human Genome Project yang berlangsung 14 tahun.

          Sains memang selalu berkembang dengan penemuan baru yang lebih detil dan rinci, akan tetapi kalau anda bicara sains, itu adalah sumber yang terpercaya.

          Memangnya untuk masalah sains anda percaya dengan siapa? komunitas yang sama sekali tidak melakukan penelitian sains, yang percaya tahayul macam komunitas dukun atau orang-2 yang suka mencocok-cocokkan fakta sains dengan kitab suci?

          Balas
  • 11 Maret 2013 pada 1:35 am
    Permalink

    Pak Judhianto, Sungguh menarik tulisan tullisan bapak. saya ingin mengutip sesuatu tentang kebenaran sejati (Ultimate Truth) alam semesta dari “The Book Of Abdhidhamma”.
    semoga bermanfaat,:

    Conventional Truth (Sammuti Sacca) and Ultimate Truth (Paramattha Sacca)

    Two kinds of Truth are recognised in the Abhidhamma according to which only four categories of things namely, mind (consciousness), mental concomitants, Materiality and Nibbana are classed as the Ultimate Truth; all the rest are regarded as apparent truth. When we use such expressions as ‘I’, ‘you’, ‘man’, ‘woman’, ‘person’, ‘individual’, we are speaking about things which do not exist in reality. By using such expressions about things which exist only in designation, we are not telling a lie; we are merely speaking an apparent truth, making use of conventional language, without which no communication will be possible.

    But the Ultimate Truth is that there is no ‘person’, ‘individual’ or ‘I’ in reality. There exist only khandhas made up of corporeality, mind (consciousness) and mental concomitants. These are real in that they are not just designations, they actually exist in us or around us.

    Balas
    • 11 Maret 2013 pada 11:38 am
      Permalink

      @Joseph: terima kasih untuk membantu memberikan kutipan dari kitab suci umat Buddha.

      Ini adalah salah satu versi tentang kebenaran sejati yang akan kita temui kalau kita menempuh laku Buddha. Adapun kalau kita menempuh laku Islam, Kristen atau agama yang lainnya, pasti kita akan bisa menemui kebenaran sejati versi masing-masing yang berbeda.

      Apakah ini obyektif? tentu tidak.
      Kebenaran obyektif adalah kebenaran yang bisa diindera siapapun tanpa perduli dengan kerangka pikiran mereka. Dan ini berarti adalah kebenaran material yang bisa diindera melalui sains.

      Apakah yang subyektif tidak nyata? tentu nyata dalam kerangka subyektifitas masing-masing. ini adalah seperti persepsi anda tentang diri anda sendiri, tentang cinta, tentang orang-orang yang anda kasihi, tentang alasan kehidupan anda.
      Semua yang subyektif itu adalah kebenaran sejati yang ada dalam universe anda, itu sangat nyata — walau bisa jadi hanyalah sesuatu yang tak real di pikiran orang lain.

      Balas
      • 11 Maret 2013 pada 8:00 pm
        Permalink

        @Judhianto:
        Dalam pandangan saya, The Abhidhamma, bukan lah kitab suci agama Buddha.
        tetapi lebih banyak mengurai atau membahas tentang alam semesta dan segala isinya, termasuk tersusun nya partikel terkecil, lebih kecil dari quarks, yang memiliki sifat sifat dan karakteristik tersendiri, yang akhir nya membentuk semua makhluk hidup di alam semesta ini berikut segala isinya. Lebih banyak membahas urusan ilmiah dari pada urusan agama Buddha.

        Saya tidak akan mengatakan The Abhidhamma adalah satu satu nya yang paling benar.
        Untuk itulah, saya percaya, agar website ini mempunyai tujuan yang lebih berarti dan bermanfaat bagi umat manusia, khususnya yang mangerti bahasa Indonesia
        . Yaitu, dengan membahas topik topik dari tulisan yang bapak tulis, dan tulisan yang menanggapi, dipandang dari berbagai ragam sudut ,yang pada awalnya sudah pasti tidak objektif. Dengan harapan, setelah membaca tulisan bapak dan tulisan tulisan dari responden lainnya, kita semua mendapat setitik “pencerahan” atau lebih baik saya sebut sebagai inspiration, yang membuat pikiran kita menjadi lebih terbuka dan bermanfaat bagi kehidupan kita masing masing. ( semoga harapan saya sesuai dengan si empunya website).

        Yup, saya sangat setuju, untuk mencapai titik sepakat kata yang sama, kita membutuhkan sesuatu, tolok ukur yang sama, yang kita sebut science.

        Dan Abhidhamma bisa dibuktikan secara science ..

        Ps: Abdhidhamma lah yang membantu yang untuk melompat keluar dari papan catur.
        setelah puluhan tahun berkutet dalam papan catur dan muter muter didalam huge labyrinth.. haha.. .. untung saja masih belum masuk ke mulut kucing.

        cheers.. 😉

        Balas
        • 12 Maret 2013 pada 8:25 am
          Permalink

          @Joseph: saya duga The Abhidhamma adalah kitab yang sangat runtut menjelaskan segala sesuatu secara logis dan sesuai akal sehat, tapi bukan ilmiah, karena ada batas minimal untuk bisa dikatakan ilmiah yaitu bukti yang teramati dan terukur. Jika batas ini terlampaui, tentu kitab ini ada dalam jajaran referensi jurnal ilmiah.

          Kenapa saya duga? karena saya belum membacanya..
          Tentunya saya senang bila mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi kitab yang menarik ini..

          Balas
  • 13 Maret 2013 pada 8:10 am
    Permalink

    sering kali kita terjebak dengan apa yang disebut Ilmiah, jika harus teramati dan terukur.
    masalah yang sering muncul adalah belum tersedianya alat ukur atau alat pengamat yang memadai.
    contohnya, pada saat manusia belum menemukan mikroskop, misalnya pada saat itu seseorang mengatakan dia melihat “hewan kecil yang lebih kecil dari debu” dengan mata bathin nya.. maka orang orang sekelilingnya akan menyebut orang ini gila.

    Sekali lagi saya jelaskan bahwa The Abhidhamma lebih banyak menjelaskan tentang ULTIMATE REALITY dari pada membahas tentang ajaran agama.
    dan banyak world class scientist setelah membaca The Abhidhamma, membuat penelitian mereka menjadi semakin cepat dan jelas gamblang.
    Setelah baca buku ini, coba nonton sekali lagi film THE MATRIX, akan terasa asyik..! JAMIN !!
    semoga setelah membaca dan mempraktekkan Abdhidhamma dalam kehidupan sehari hari, saya percaya, wawasan tentang rahasia alam semesta AKAN SEMAKIN TERKUAK JELAS DI HADAPAN KITA.. tidak perlu lagi menduga duga , ber imaginasi atau nunggu orang lain nulis buat kita .. ha ha ha….Selamat Menikmati .. !

    weblink ini bapak bisa memdownload The Abhidhamma in Practice :
    http://www.bps.lk/olib/wh/wh322.pdf

    Balas
    • 14 Maret 2013 pada 11:10 pm
      Permalink

      @Joseph: realitas memang berlapis-lapis.

      Apa yang dipaparkan kitab Abhidhamma adalah salah satu lapisan realitas yang ditafsirkan berdasar realitas fisik yang ada.

      Terima kasih kirimannya, terus terang saya belum sempat membacanya. Karena kesibukan, saya juga baru sempat membalas komentar anda saat ini.

      Semoga saya juga bisa mengalami asyiknya menjelajahi ultimate reality yg ditawarkan buku ini. 🙂

      Balas
  • 13 Maret 2013 pada 8:24 am
    Permalink

    Sedikit introduction tentang The Practice of Abhidhamma, (Note : saya kutip dari page 5):

    The Abhidhamma deals with realities existing in an ultimate sense.
    Citta, the cetasikas, and rūpa are conditioned realities. They arise because of conditions and disappear when their conditions cease to sustain them. Therefore they are impermanent. Nibbāna is an unconditioned reality. It does not arise and therefore does not fall away. These four realities can be experienced regardless of what name we give them. Any other thing—be it within ourselves or without, past, present, or future, coarse or subtle, low or lofty, far or near— is a concept and not an ultimate reality.
    Citta, cetasikas, and nibbāna are also called nāma. The two conditioned nāmas, citta and cetasikas, together with rūpa make up nāma-rūpa, the psycho-physical organism. Each of us, in the ultimate sense, is a nāma-rūpa, a compound of mental and material phenomena, and nothing more. Apart from these three realities that go to form the nāma-rūpa compound there is no ego, self, or soul. The nāma part of the compound is what experiences an object. The rūpa part does not experience anything. When the body is injured it is not the body, which is rūpa, that feels the pain, but nāma, the mental side. When we are hungry it is not the stomach that feels the hunger but again the nāma. However, nāma cannot eat the food to ease the hunger. The nāma, the mind and its factors, makes the rūpa, the body, ingest the food. Thus neither the nāma nor the rūpa has any efficient power of its own. One is dependent on the other; one supports the other. Both nāma and rūpa arise because of conditions and perish immediately, and this is happening every moment of our lives

    Page 6:

    By studying and experiencing these realities we will get insight into:

    1) what we truly are;
    2) what we find around us;
    3) how and why we react to what is within and around us; and
    4) what we should aspire to reach as a spiritual goal.

    Balas
  • 2 Mei 2013 pada 6:45 am
    Permalink

    Saran saya: main Metal Gear Solid 2 (PS2). Bahasan Anda tentang genom mengingatkan saya pada game itu. Tapi saya gak mau mereduksi game itu ke dalam kata-kata dengan menceritakannya di sini.

    Kalau sempat, mainkan semua serinya.

    Balas
    • 2 Mei 2013 pada 8:14 am
      Permalink

      @Harun_Bey: tengkyu saran game-nya

      Balas
  • 11 Januari 2015 pada 11:33 pm
    Permalink

    Pak Judhianto ,
    Saya salut bapak berusaha berfikir keras untuk mencari kebenaran,,
    Maaf saya ingin bertanya, menurut bapak apakah adil jika orang yang berbuat baik dan berbuat kerusakan sama derajatnya disisi Tuhan ?
    Bagaimana jika ada golongan manusia yang sangat rindu kepada Tuhannya kemudian berusaha menempuh jalan (ibadah) yang dicontohkan rasul/utusan dizamannya, akankah di sia-siakan ?
    Terimakasih Pak

    Balas
    • 12 Januari 2015 pada 12:09 am
      Permalink

      @Huda: menurut saya, tentu beda derajat antara orang baik dan orang jahat.

      Tetapi apakah Tuhan membedakan derajatnya atau bagaimana Tuhan menilai ibadahnya, ya tentu pertimbangannya ada pada Tuhan. Kita cuma bisa berprasangka bahwa Tuhan adil dalam menimbang segala sesuatu.

      Yang perlu kita lakukan hanyalah menggunakan semua masa hidup kita yang terbatas ini untuk menjadi yang terbaik yang bisa kita raih, menikmatinya dan berguna bagi lingkungan kita.

      Balas
  • 17 Juli 2015 pada 7:30 pm
    Permalink

    saya berusaha mengenali pak judhianto melalui tulisan tulisannya. kadang saya sangat setuju, kadang saya tercerahkan dan kadang juga saya sangat tidak setuju. ada satu pertanyaan yang sedang saya simpan, dan sedang saya cari tempatnya yang paling tepat. menurut saya di sinilah tempat yang agak pas untuk menanyakannya langsung pada pak judhianto. langsung saja ya pak. apakah pak judhianto sekarang masih menjalankan sholat lima waktu?

    Balas
  • 6 Februari 2016 pada 5:20 am
    Permalink

    Mohon kalo mengkutip ayat jangan setengah akan jadi lain ceritanya tujuan manusia diciptakan tidak hanya itu.

    Balas
    • 6 Februari 2016 pada 6:37 am
      Permalink

      @Difa Kresnawan: anda tahu yang lebih lengkap? silakan tulis dalam komentar anda sebagai koreksinya, itu akan mencerahkan.

      Mohon kalau komentar jangan setengah-setengah.

      Balas
  • 18 Februari 2016 pada 5:43 pm
    Permalink

    menarik sekali pak. jika hipotesa pak Judhianto mengenai genom melestarikan (beribadah) dengan penciptanya maka dari itu LGBT sangat tidak disarankan karena tidak menlestarika n Genom. makanya Agama samawi dan Non Samawi menerapkan tidak boleh saling membunuh, menyakit sehingga menyebabkan terputusnya Genom ke generasi berikutnya.

    saya pernah membaca Sejarah Para Tuhan, Chapter Tuhan Para filsufur. para filsufur untuk merasakan Tuhan itu ada bisa dicerminkan dari ciptaanya. apakah yang dimaksud itu adalah genom.

    sepengetahuan saya dikutip dari alquran, injil atau buku. saya lupa ayat berapa ada secuil sifat pencipta yang pasti sifat yang baik bukan yang jelek. tetapi sifat jelek itu sendiri diwarisi dari nafsu dan kebebasan menentukan nasib kita pak.

    pertanyaan selajutnya apakah nabi dan rosul mempunyai genom yang istimewa karena silsilah tidak jauh2 dari keluarga?
    Nabi muhammad SAW adalah nabi terakhir saya berarti dimewarisi genom yang terakhir dari evolusi manusia yang sudah sangat sempurna sehingga tidak ada evolusi sehingga kita akan menunggu kiamat atau hilangnya pelestarian genom.
    apakah Nabi AS mempunyai genom yang unik dikarena mempunyai keajaiban.yang tidak dipunyai manusia sampai saat ini.?

    Balas
    • 18 Februari 2016 pada 6:35 pm
      Permalink

      @Zack Ripper: ada dua hal yang berbeda dalam melihat kenyataan, memakai kacamata agama atau memakai kacamata sains.

      Dalam kacamata agama (Islam), manusia adalah istimewa, dan tujuan hidupnya adalah beribadah (mengikuti perintah Tuhan).

      Tentang evolusi manusia, ada hadis yang mengatakan:

      Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya

      Jadi dalam pandangan agama (Islam), evolusi yang kita alami sekarang adalah evolusi ke arah yang lebih buruk. Puncak evolusi manusia ada pada Muhammad, setelah itu manusia berevolusi menuju lebih buruk – moralnya semakin hancur dan semakin jahat. Kelak setelah manusia menjadi hancur-hancuran buruknya, Tuhan akan menghabisinya dalam kiamat.

      Dalam kacamata sains, manusia tidak istimewa. Ia hanyalah satu produk seleksi alam dari proses evolusi. Mahluk yang bertahan hanyalah yang mampu beradaptasi terhadap tantangan lingkungan alam. Saat ini manusia adalah mahluk yang dominan di bumi, namun tidak menutup kemungkinan suatu saat akan tergantikan oleh mahluk lain.

      Tujuan hidup? dari sisi biologis ya sama dengan tujuan hidup seekor kucing, yaitu hidup dan menghasilkan keturunan.
      Tujuan non-biologis? tiap orang bisa memilih sendiri tujuan hidupnya. Kalau tak bisa merumuskan sendiri? nyontek saja pada agama, ideology atau mimpi orang lain.

      Sejauh ini manusia sudah berevolusi menjadi lebih baik. Manusia masa kini jauh lebih pandai, lebih berusia panjang, lebih sejahtera dan mempunyai standard moral yang lebih baik daripada manusia di era para nabi hidup.

      Adakah para nabi mempunyai genom istimewa? atau kualitas istimewa?
      Kalau dari kacamata sains, enggaklah…

      Balas

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda

Paling Dikomentari

Paling Dibaca

Pilihan Acak

%d blogger menyukai ini: