Beragamnya Al-Qur’an Dalam Sejarah

Apakah Qur’an yang ditangan kita sekarang sama persis dengan Qur’an pada masa Nabi Muhammad?

Kebanyakan umat Islam akan menjawab: “Ya! sama persis”!.

Sayangnya jawaban tersebut salah.

Qur’an yang sampai ditangan kita sekarang adalah hasil beberapa ikhtiar standarisasi yang telah dilakukan umat Islam dalam sejarah. Berikut ini apa yang bisa kita dapatkan dari sejarah Qur’an.

Mengaji Al-Qur'an
Mengaji Al-Qur’an

Era Nabi: Beragam Mushaf Yang Terserak

Pada saat Nabi hidup, bentuk Qur’an yang utuh seperti yang kita kenal sekarang belum ada. Segera setiap kali wahyu turun, Nabi menyampaikannya pada para sahabat. Para sahabat menghafalkannya, dan beberapa mencatatnya.

Nabi sendiri menunjuk beberapa sahabat untuk mencatat wahyu-wahyu itu. Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Ubay bin Ka’ab,Zayd bin Tsabit, dan Abdullah bin Mas’ud adalah nama-nama yang biasa disebut sebagai pencatat wahyu. Tetapi disamping empat orang itu, banyak juga para sahabat yang mencatat wahyu-wahyu itu untuk keperluan pribadi mereka sendiri.

Koleksi catatan wahyu ini (mushaf), bervariasi antara para sahabat. Hal ini karena mereka mencatat apa yang mereka dengar dari Nabi, dan tidak semuanya para sahabat itu hadir ketika suatu wahyu diturunkan.

Apa yang disebut mushaf pada saat Nabi masih hidup, bukanlah Qur’an dalam versinya yang utuh. Mushaf saat itu merupakan fragmen-fragmen dari Qur’an.

Era Abu Bakar dan Umar: Pengumpulan Mushaf

Setelah Nabi wafat, usaha pengumpulan mushaf Qur’an dimulai oleh khalifah Abu Bakar atas usulan dari Umar bin Khattab.

Pada mulanya usul Umar ini ditolak oleh Abu Bakar karena alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan Nabi. Itu Bid’ah. Tapi setelah diyakinkan Umar atas manfaatnya bagi umat Islam, Abu Bakar setuju.

Pengumpulan mushaf pada saat Abu Bakar dan dilanjutkan oleh Umar saat menjadi khalifah, belum merupakan usaha kodifikasi yang serius. Mereka hanya mengumpulkan fragmen-fragmen Qur’an yang berserakan dari para sahabat, tetapi belum menyusunnya ulang dalam satu bentuk mushaf Qur’an yang utuh.

Era Usman: Penyusunan Mushaf Yang Utuh

Kodifikasi Qur’an secara serius baru dilakukan saat khalifah ketiga, Usman bin Affan. Tim penyusun yang dibentuk Usman mengumpulkan semua fragmen-fragmen Qur’an yang ada serta memanggil semua penghafal Qur’an yang ada untuk menyusun suatu mushaf yang utuh.

Ayat-ayat dalam mushaf disusun tidak berdasarkan urutan kronologi ayat-ayat tersebut diturunkan, akan tetapi berdasarkan petunjuk penempatan dari Nabi yang diingat oleh para sahabat.

Mushaf Usmani di Musium Tashkent
Mushaf Usmani di Musium Tashkent

Dari proses ini, dihasilkan mushaf Qur’an dalam bentuk yang utuh. Mushaf ini dikenal sebagai “Mushaf Usmani”. Mushaf ini terdiri dari 114 surah yang dimulai dari Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Ini yang menjadi cikal bakal semua Qur’an yang beredar didunia.

Mushaf Qur’an Versi Lain

Apakah ada mushaf versi lainnya? Ada.

Sebelum pengumpulan mushaf ini dilakukan oleh negara, secara pribadi beberapa sahabat ada yang sudah melakukan pengumpulan ayat-ayat yang terserak dalam satu mushaf utuh.

Beberapa mushaf yang sempat terekam dalam sejarah adalah mushaf milik Ubay bin Ka’ab, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ali bin Abi Thalib, dan Hafsah istri Nabi.

Mushaf-mushaf itu memiliki jumlah dan susunan ayat yang berbeda. Sebagai misal Mushaf Ubay memiliki 115 surah, Mushaf Ibn Mas’ud memiliki 108 surah, Mushaf Ibn Abbas 116 surah.

Perbedaan ini terekam dari komplain Aisyah istri Nabi yang dikutip Jalaluddin Al-Suyuthi dalam kitab al-Itqan sebagai berikut: “pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].”

Pada Mushaf Ibn Abbas juga ada dua surah yang yang tidak disertakan dalam Mushaf Usmani yaitu al-Khal dan al-Hafd.

Nasib Mushaf Qur’an Versi Lain

Setelah khalifah Usman meresmikan Mushaf Usmani, dia memerintahkan membakar semua mushaf lain yang ada. Sebagian besar mushaf-mushaf itu berhasil dimusnahkan, akan tetapi ada beberapa mushaf yang selamat. Salah satunya adalah Mushaf Hafsah,  Mushaf ini baru dimusnahkan pada era Khalifah Marwan ibn Hakam (65 H)

Secara fisik mushaf-mushaf yang lain tersebut berhasil dimusnahkan, akan tetapi beberapa mushaf itu masih hidup dalam bentuk hafalan para sahabat. Karena sebenarnya pada masa itu Qur’an lebih banyak dihafal daripada dibaca.

Para penulis Islam pada masa belakangan, menyayangkan bila hafalan para sahabat itu musnah. Mereka berusaha mengumpulkan lagi hafalan para sahabat tersebut dalam tulisan mereka.

Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (118 H), al-Kisai (189 H), al-Baghdadi (207 H); Ibn Hisyam (229H), Abi Hatim (248 H), al-Asfahani (253 H) dan Ibn Abi Daud (316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberi judul kitab al-masahif atau ikhtilaf almasahif).

Sebagai misal: Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi. Mushaf-mushaf yang lain ini saat ini hanya terdapat dalam beberapa perpustakaan Islam yang tua.

Variasi Mushaf Usmani

Mushaf Usmani dituliskan pada saat aksara arab masih dalam bentuk awal. Huruf arab belum mengenal tanda baca dan tanda titik.

Tulisan awal Qur'an yang tanpa tanda baca
Tulisan awal Qur’an di Mushaf Usmani yang tanpa tanda baca

Tanda baca dalam huruf arab baru ditemukan pada pertengahan abad 7. Sistem tanda baca huruf arab diperkenalkan oleh Abu al-Aswad al-Dua’ali, seorang sarjana pada masa Dinasti Umayyah.

Absennya tanda baca ini menyulitkan umat Islam yang bukan penutur bahasa arab asli. Hal ini juga dikarenakan Qur’an juga mulai disebarkan lewat tulisan bukan hanya hafalan.

Akibatnya banyak sekali variasi cara pembacaan Qur’an, walaupun mereka menggunakan mushaf yang sama. Para penyalin Qur’an menambahkan berbagai tanda baca untuk memudahkan mereka untuk membaca Qur’an. Akibatnya muncul berbagai versi bacaan Qur’an.

Pada era Dinasti Abbasiyah, khalifah pada tahun 324H memerintahkan Ibn Mujahid untuk menyeragamkan bacaan Qur’an yang ada. Dari puluhan versi bacaan Qur’an, dipilih tujuh versi bacaan yang direstui.

Ke tujuh versi bacaan Qur’an inilah yang kemudian digandakan dan disebarkan ke seluruh pelosok negara Islam.

Penyeragaman Qur’an Oleh Mesin Cetak

Pada abad ke 20 dari tujuh versi penulisan Qur’an, hanya tinggal tiga yang masih beredar yaitu versi Nafi, versi Abu Amr dan versi Asim.

Pada tahun 1924, Qur’an versi Asim pertama kali dicetak di Mesir, versi ini kemudian populer dengan sebutan “Edisi Mesir”. Kerajaan Arab Saudi kemudian menjadikan “Edisi Mesir” sebagai standar kerajaan dan mencetak secara besar-besaran.

Dalam rangka dakwah Islam, Kerajaan Arab Saudi kemudian mencetak dalam jutaan salinan dan menyebarkan keseluruh umat Islam di seluruh dunia.

Mesin cetak Gutenberg
Mesin cetak Gutenberg

Tindakan Kerajaan Arab Saudi, yang menyebarkan secara murah bahkan gratis salinan versi Asim menyebabkan tersisihnya dua varian Qur’an lain yang masih tersisa yaitu versi Nafi dan versi Abu Amr. Dua versi Qur’an ini masih bisa ditemui walau langka di wilayah Maroko dan sekitarnya.

Alhasil, versi Qur’an yang ada ditangan kita dan tersebar ke seluruh dunia adalah hasil standarisasi akhir dari Kerajaan Arab Saudi.


Bacaan:
* Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur”an, Yayasan Abad Demokrasi, 2011

Baca Juga:

Judhianto

Pencari jawab amatir, bertanya apa saja...

188 tanggapan untuk “Beragamnya Al-Qur’an Dalam Sejarah

  • 2 Januari 2015 pada 9:56 pm
    Permalink

    Tulisan yang menambah wawasan, kalau umat Islam mau membuka diri maka akan lebih banyak yang akan kita dapatkan tentang Islam yang sebenarnya.

    Balas
  • 22 Januari 2015 pada 2:04 am
    Permalink

    hahahaaa… belajar ngarang ya…?
    Al Qur’an tuh ada di kepala dan dada setiap muslim… bandingkan saja dengan kitab saudara.
    Kalau seandainya di bakar semua kitab yang ada di bumi ini… hanya Al Qur’an yang bisa muncul sesuai aslinya.
    Kalau bible…? hahahaaaaa… ngarang lagi jadi bebel.

    Balas
    • 22 Januari 2015 pada 5:32 am
      Permalink

      @WirosablengManukan: ada di kepala dan dada setiap muslim? jadi maksudnya tiap muslim itu hafal Qur’an?
      wah hebat benar dongengnya 🙂

      Balas
      • 24 Oktober 2015 pada 8:07 pm
        Permalink

        mau numpang tertawa boleh kan mas Judhianto? namanya saja ada “sableng”nya, lho koq malah memberi cap manusia yang memberi pencerahan berdasarkan bukti otentik bebal?

        Balas
  • 22 Januari 2015 pada 10:53 am
    Permalink

    Ini sejarah dari mana? Al Quran sudah di tulis lengkap sejak zaman Khalifah Abu Bakar lagi atas usul Syaidina Umar. Khalifah Abu Bakar dan Syaidina Umar sendiri memerintahkan Zaid bin Tsabit menulis naskhah lengkap Al Quran dengan di pantau oleh semua sahabat PENGHAFAL AL QURAN waktu itu. Naskhah lengkap yang sudah sempurna lengkap ini di simpan oleh Khalifah Abu Bakar dan di turunkan dari satu khalifah seterusnya. Dari Al Quran naskhah lengkap inilah Khalifah Uthman membuat salinan semula juga dengan di semak dan diawasi oleh semua Sahabat Nabi Penghafal Al Quran waktu itu termasuk penulis wahyu (Al Quran) di zaman Nabi seperti Zaid dan Muawiyah. Al Quran lengkap 4 naskhah lengkap yang telah di salin semula oleh Khalifah Uthman ini dibubuh tanda-tanda bacaan supaya mereka yang bukan arab dapat menbaca Al Quran dengan betul. Tanda bacaan dalam Al Quran ini di sempurnakan lagi oleh para ulama’ hingga kepada Pemerintahan Khalifah Uthmaniyah Turki. Al Quran inilah yang di kenal sebagai Al Quran Uthmani yang sempurna tanda-tanda bacaan supaya semua umat Islam boleh membaca dan memyebut bacaan Al Quran dengan betul dan tepat sama dengan bacaan sahabat Nabi dahulu.

    Balas
    • 22 Januari 2015 pada 4:29 pm
      Permalink

      @Sall43: silakan baca e-book yang saya sertakan di akhir artikel. Ada rujukan ke kitab-kitab sejarah klasik untuk apa yang saya tuliskan. Untuk cerita anda, bisa anda tunjukkan rujukannya?

      Balas
      • 24 Oktober 2015 pada 8:09 pm
        Permalink

        sayang di sini tidak ada ikon like, dan sticker tertawa. mba Sall43…pls monggo mana rujukan dari cerita anda!

        Balas
    • 28 Oktober 2015 pada 6:05 am
      Permalink

      Kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang di tulis dalam bahasa Arab jelas menceritakan kisah penulisan Al Quran sejak Khalifah Pertama ini. Inikisah langsung daripada hadis Sahabat-sahabat Nabi (bukan hadis Nabi). Anda hebat menulis dan membaca dalam bahasa Arab. Sila anda rujuk kitab Arab itu sendiri. Kitab berbahasa Arab itu berkenan yang di tulis oleh Ahli Hadis pada zaman salafus soleh. Paling tidak dalam Pendahuluan Al Quran terjemahan Indonesia juga ada menulis kisah penulisan Al Quran oleh Khalifah Abu Bakar.

      Ini bukan kitab kristen yang di karang-karang oleh orang Yunani Greek yang mengaku sahabat dan pengikut Yesus tetapi tidak tahu menulis dan bertutur dalam bahasa Aram (bahasa ibu Yesus). Hanya mengaku-mengaku diri tetapi tidak pernah di buktikan penah hidup bersama-sama Yesus sebelum di salib. Tidak juga pernah menulis buku/kitab dalam bahasa Aram atau bahasa ibunda Yesus.

      Balas
      • 28 Oktober 2015 pada 8:18 am
        Permalink

        @Sall43: ya sudah kalau anda sudah punya pendapat yang beda, saya hargai kok.

        Cuma yang saya sampaikan adalah fakta sejarah, kalau gak setuju ya tolong ditunjukkan yang mana salahnya, dan koreksinya bagaimana, dan landasannya apa. Bila itu kuat, mungkin bisa mengubah pandangan saya.

        Balas
    • 28 Oktober 2015 pada 6:37 am
      Permalink

      Hafsah adalah anak perempuan Saidina Umar. Mushaf Hafsah yang admin katakan selamat inilah sebenarnya Mushaf Al Quran Pertama yang di tulis oleh Zaid bin Tsabit dengan perintah Khalifah Abu Bakar atas cadangan Saidina Umar. Mushaf yang sudah lengkap di tulis ini di simpan oleh Khalifah Abu Bakar sebagai Khalifah Al Rashidin Pertama Islam setelah kewafatan Nabi Muhammad s.a.w. Apabila Khalifah Abu Bakar wafat Mushaf Pertama ini di simpan oleh Khalifah Al Rashidin kedua iaitu Umar Al Khattab r.a. Setelah Khalifah Umar Al Khattab wafat barulah naskhah Al Quran lengkap ini di simpan oleh anak perempuannya yang juga isteri Rasulullah s.a.w. Hafsah binti Umar Al Khattab. Khalifah Uthman di lantik menjadi Khalifah Islam ke 3 mengantikan Khalifah Umar yang baru wafat. Khalifah Uthman inilah meminjam Naskhak Al Quran lengkap yang di simpan oleh Hafsah binti Khalifah Umar Al Khattab. Daripada Naskhah Al Quran inilah kemudiannya Khalifah Uthman r.a. menyalin semula lebih banyak Al Quran juga dengan penyeliaan Para Sahabat termasuk Zaid bin Tsabit penulis asal Al Quran.

      Balas
      • 28 Oktober 2015 pada 8:21 am
        Permalink

        @Sall43: terima kasih infonya. Saya rasa pembaca bisa memutuskan sendiri yang mana yang bisa diterima.

        Balas
        • 3 November 2015 pada 8:46 pm
          Permalink

          Hanya orang-orang kafir yang memusuhi agama Islam sahaja yang berusaha membantah kebenaran sejarah Islam ini dengan pelbagai cara memutar belit mereka melakukan putar belit dengan merkayasa cerita dongeng tanpa pembuktian dari sejarah sebenar dengan cara memyembunyikan beberapa fakta.

          Balas
          • 3 November 2015 pada 9:09 pm
            Permalink

            @Sall43: ini jaman kemudahan informasi kok, tiap orang kalau mau bisa cari informasi sendiri. Beri label kafir, memusuhi Islam atau label-label lain gak akan laku kok kalau memang informasinya valid. Hanya yang bodoh saja yang takut diberi label macam itu 🙂

  • 26 Januari 2015 pada 6:48 pm
    Permalink

    Namanya agama itu keyakinan. kepercayaan.
    Kalo sudah nggak percaya, kalo sudah nggak yakin. ya ke gunung kawi saja. Beres to!!!..
    Atau ke daerah tulungagung-jatim. disono ada makamnya eyang setono serut yang dikenal dengan kuburan ngujang. Dijamin pasti beres.
    Ada juga daerah dipinggir pantai selatan persis. namanya Retjo Sewo (seribu arca)
    ..
    Saya bisa bantu ngenalin sama abdi dalemnya…
    Kalo mas judhi bersedia nanti saya kenalin.
    Masalah mahar dibahas sambil jalan saja, itu bukan sesuatu yang harus di permasalahkan. ya to!!..
    ..
    Terima kasih balesannya. (kalau berkenan)

    Balas
    • 26 Januari 2015 pada 9:15 pm
      Permalink

      @KucingKarung: setuju… agama itu keyakinan dan kepercayaan, tak lebih dari itu.
      Dan karena kepercayaan adalah sesuatu yang bersifat pribadi, tentunya tak masalah bukan, kalau orang lain punya keyakinan yang beda?

      Oh ya, baru tahu kalau bagi anda, bahwa ke Gunung Kawi, ke makam Eyang Setono Serut atau ke Retjo Sewu itu bisa bikin segala sesuatu jadi beres.

      Saya tak setuju dengan keyakinan dan kepercayaan anda itu, tapi apalah hak saya untuk melarang keyakinan dan kepercayaan anda itu. Tiap orang kan boleh punya kepercayaan.

      🙂

      Balas
    • 24 Oktober 2015 pada 8:12 pm
      Permalink

      Kucing Karung …coba kalau memberi komentar yang cerdas gitu lho…masa bawa-bawa gunung kawi segala, memang sudah dapet berkah apa dari gunung Kawi..? bagi-bagi dong!

      Balas
  • 5 April 2015 pada 11:00 am
    Permalink

    Keren, Mas Judhianto ini sabar banget melayani komentar2. Saya angkat topi dengan kejernihan analisis Mas Judhianto, juga dengan ketelatenan untuk melayani diskusi. Semoga benih2 kritis begini mendapat tempat yang lebih luas dalam dinamika pemikiran Islam, bukan sebatas kekeramatan sejarah dan mitos.
    Salam.

    Balas
  • 24 Juli 2015 pada 4:44 pm
    Permalink

    Cobak Anda beli 10 Al-Qur’an bandingkan Apakah Artinya sama ehehhehhe cobak bandingkan sendiri apa kah artinya sama isi sama hhehhhehe gua kaga pernah sampe sekrang ketemu Al-Qur’an beda isi hehhehhe

    Balas
    • 24 Juli 2015 pada 5:30 pm
      Permalink

      @Pertamax: kalau anda bawa Qur’an anda dan bawa ke Tashkent untuk dibandingkan dengan mushaf Usmani, anda akan melihat tulisan mushaf tersebut gak sama dengan Qur’an anda.

      Kalau anda ke Maroko, anda bisa mencari Qur’an versi Nafi dan versi Abu Amr.

      Balas
      • 27 Juli 2015 pada 10:33 pm
        Permalink

        Dan Allah lah yang menjaga Al-Quran. seberapa banyak orang menghafal Al Qur’an sejak zaman Nabi hingga sekarang pun yang dihafalkan masih sama dan itulah mengapa Al-Qur’an masih terpelihara. bagaimana dengan kristen? injil pun tidak ada yang hafal. waspadai nabi2 palsu yang mengatakan dirinya kristus… adakah Muhammad brrkata kristus . jesus berkata akulah jalan lurus maka ikutilah aku (kaum bani israel). jesus berkata elli lamma sabakhtani. jesus mengakui dirinya nabi. paulus berkata jesus anak Allah tuhan bahkan berkata kepada Bapa tuhan (trinitas) apa yang dikatakan jesus berbeda dengan paulus. paulus berkata aq yang mendirikan kristen padahal jesus/isa berada dalam kebenaran ajaran Tauhid.

        Balas
        • 27 Juli 2015 pada 10:58 pm
          Permalink

          @Mujadid: bisakah anda bicara tentang fakta dan bukan sekedar imajinasi atau sekedar mengulang imajinasi hebat yang anda dengar?

          Dari ungkapan anda berikut:

          Dan Allah lah yang menjaga Al-Quran. seberapa banyak orang menghafal Al Qur’an sejak zaman Nabi hingga sekarang pun yang dihafalkan masih sama

          sudah menunjukkan betapa anda tak terbiasa mikir dengan pijakan fakta.

          Memangnya anda sudah bandingkan hafalannya? dari jaman nabi sampai sekarang ini ada sekitar 1500 tahun, anda punya sampel hafalan untuk tiap tahunnya? cara bandingkannya bagaimana? siapa saja orangnya?

          Kalau gak ada datanya, ya jangan membual bahwa anda tahu bacaan selama 1500 tahun itu sama.

          Mengungkapkan fakta agama sendiri saja gak mampu, kok ceriwis ngurusi agama orang lain

          😀

          Balas
          • 27 Oktober 2015 pada 3:16 am
            Permalink

            Benar Mas Judhi, Al Quran itu untuk orang yang menggunakan akalnya Q. 10:100

  • 25 Juli 2015 pada 8:07 am
    Permalink

    saluttt mas judhianto..pengetahuan seperti ini diperlukan untuk lepas dari dogma-dogma yang tidakjelas dasarnya…

    Balas
    • 25 Juli 2015 pada 1:42 pm
      Permalink

      @Dadeng Hasan: saya siap membaca logika bermutu pencerdasan public dari anda. Silakan…

      Balas
    • 24 Oktober 2015 pada 8:15 pm
      Permalink

      tidak sabar mau baca tulisan bermutunya Dadeng Hasan.

      Balas
  • 3 September 2015 pada 10:07 am
    Permalink

    Kalau di awal tulisan benar adanya bahwa Alquran tidak sama dengan pada saat jaman Rosul, muncul pertanyaan.. validitas dan keakuratan isinya siapa yg bertanggung jawab ya..?? Karena rosul sendiri tdk pernah tahu yang tertulisnya/ yg sdh dibukukan. Apakah akurat yg sudah tertulis,( ada yg kurang atau bahkan berlebih). Mohon pencerahan.. ini sangat penting diketahui. Lagian kalau benar bahwa secara isi, baik Alquran, PL maupun Taurat ada beberapa kisah yg sama.. Ini gimana.?. Wahyu kok diturunkan dg konten yg sama.?. Makasih.

    Balas
    • 3 September 2015 pada 4:39 pm
      Permalink

      @Sastro: siapa yang bertanggung jawab? wah bisa banyak orang dari hulu ke hilir.

      Yang jelas Al-Qur’an yang sekarang adalah hasil ikhtiar terbaik yg diusahakan.

      Sejarah al-Qur’an sebagaimana yang saya tulis di atas juga tak lepas dari pertanyaan sehubungan dengan ditemukannya berbagai temuan baru yang digali dari berbagai kitab klasik Islam dan berbagai penemuan arkeologi.

      Sebagai contoh, dari berbagai kitab masahif ditemukan cerita-certa tentang proses editing Qur’an sendiri yang berlangsung bahkan hingga khalifah Umayyah ke 5. Di sisi arkeologi, juga ditemukan perkamen berisi surat Al-Kahfi, Maryam, Thaha yang dari uji karbon dengan akurasi 95% menunjukkan bahwa perkamen itu berasal dari masa ketika Nabi Muhammad sendiri belum diangkat menjadi nabi.

      Mengenai kisah-2 nabi. Semua nabi-nabi yang disebutkan di Qur’an adalah nabi-nabi Yahudi yang dikisahkan di PL dan PB. Qur’an mengisahkan ulang dengan setting, sudut pandang dan muatan yang beda.

      Ini adalah proses pribumisasi ajaran bangsa Yahudi ke ke budaya Arab. Tuhan yang dulunya bicara dengan bahasa Yahudi, dengan berfirman kepada nabi-2 Yahudi yang hidup dalam budaya Yahudi — di-pribumisasi menjadi Tuhan yang bicara dalam bahasa Arab berfirman kepada Nabi-2 yang sekarang digambarkan hidup dalam budaya Arab.

      Balas
      • 24 Oktober 2015 pada 8:17 pm
        Permalink

        penjelasan yang luar biasa!

        Balas
      • 3 November 2015 pada 9:18 pm
        Permalink

        Harus di ingat kisah yang di ceritakan tentang Para Nabi dalam Al Quran adalah jauh berbeda dengan Perjanjian Lama. Ada banyak kisah dalam Al Quran tetapi tidak ada dalam Perjanjian Lama. Kisah Maryam, kisah Nabi Ibrahim, kisah ayah Nabi ibraham dan Raja Nambrut tidak ada dalam Perjanjian Lama. Begitu juga kisah tenggelamnya Firaun sesudah mati semasa mengejar Nabi Musa a.s. dan pengikut yahudinya, Kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir juga tidak ada dalam PL. Jadi ini membuktikan Al Quran bukan mengambil cerita daripada PL tetapi dari Wahyu dari Allah.

        Balas
        • 3 November 2015 pada 9:33 pm
          Permalink

          @Sall43: ini mirip kalau orang Jawa ngotot bahwa kisah wayang bukan mengambil cerita Mahabarata, buktinya ada tokoh-tokoh punokawan dan beragam kisah carangan yang gak ada di Mahabarata.

          Kan dari wahyu? Orang Jawa bisa juga bilang dari wahyu. Klaim itu gampang kok 🙂

          Balas
  • 4 September 2015 pada 10:07 am
    Permalink

    Kalau hasil dari proses pribumisasi apakah berarti Alquran bukan sepenuhnya wahyu yg diterima Rosul..? atau sebagian diturunkan wahyu melalui jibril sebagian hasil copy yg disesuaikan bahasanya menjadi bahasa arab (pribumisasi)… gimana nih kayaknya kita masih belum clear memahami rekonstruksi alurnya..??. Tolong dibabarkan jawaban yg tdk hrs memaksa kita untuk menginterprestasikan lagi…maklum masih awam. Tks.

    Balas
    • 4 September 2015 pada 11:37 am
      Permalink

      @Sastro: kalau masalah pribumisasi, kita bisa melihat dari kandungannya.
      Mengenai bagaimanakah prosesnya? umat Islam yakin bahwa itu melalui proses pewahyuan dan belum ada bukti yang kuat bahwa itu melalui proses lain.

      Balas
  • 24 Oktober 2015 pada 8:27 pm
    Permalink

    Siapapun bisa meng”klaim” bahwa dirinya menerima wahyu..harus ada investigasi mengenai apa itu Alquran yang sebenarnya. bagaimana mungkin sebuah buku yang banyak kejanggalan dan ketidakadilan di dalamnya bisa digadang-gadang sebagai petunjuk Allah yang terjamin keasliannya sampai hari kiamat.

    kebanyakan dari kita tidak mencari jawaban atas hal-hal penting itu, karena brainwash bahwa kita harus menerima semua itu dengan iman.

    Terima kasih masih ada manusia yang tidak berhenti dengan semua tekanan dan bahkan ancaman, dan terus mencari dan mempersembahkan tulisan hebat di blog ini untuk manusia lain yang masih berada di dalam tempurung.

    Balas
    • 27 Oktober 2015 pada 3:22 am
      Permalink

      Penafsir tunggal Alquran adalah Nabi Muhamad sendiri sedangkan beliau sdh tidak ada, jadi sangat relevan Alquran itu dapat di kritik.

      Balas
      • 27 Oktober 2015 pada 11:19 am
        Permalink

        @Zulfikar: Qur’an itu respon terhadap apa yang sedang dialami nabi, Nabi Muhammad menjalankan Qur’an – bukan menafsirkannya. Orang lainlah yang butuh menafsirkan Qur’an untuk membawa semangatnya ke situasi nyata yang dihadapi orang tersebut.

        Balas
  • 26 Oktober 2015 pada 9:38 pm
    Permalink

    Apa tujuan akhir dari tulisan Anda ini ?

    Balas
    • 27 Oktober 2015 pada 10:47 am
      Permalink

      @Lea: silakan berkomentar yang relevan dengan tulisan saya..

      Sudah mandikah anda? #KetularanGakNyambung

      Balas
  • 29 Oktober 2015 pada 7:26 am
    Permalink

    Kalau saya menafsirkan Tujuan Akhir dari tulisan tulisan mas Judhi adalah mengajak kita semua untuk me NONTONDUNIA…dengan segala polah tingkah penghuninya, utamanya tentang realitas ke berimanan penghuni bumi ini , menunjukkan realitas2 yg ada dan mengajukan pertanyaan pertanyaan tentang nya ….tanpa menabukan nalar dan akal anugerah TUHAN yang paling berharga dalam mempertanyakannya sesuai dengan perkembangan zaman dan IPTEK.
    Ujung ujungnya mengajak kita memantapkan IMAN itu sendiri dengan nalar dan akal budi dengan ukur ukuran Universal sesuai dengan pemahaman kontekstual Tempat , Ruang dan Waktu terhadap teks2 suci, termasuk mempertanyakan tentang konteks sejarahnya..Memahami teks suci agar dunia ini menjadi tempat Fit to Live In bagi seluruh umat manusia…saling menghargai saling membantu, berlomba lomba dalam kebaikan…hidup dalam kedamaian nan penuh rahmat…Crah agawe bubrah rukun agawe santoso.

    Balas
    • 29 Oktober 2015 pada 1:44 pm
      Permalink

      @Mandra Wage: sebenarnya yang terpikir pertama kali saat membuat blog ini adalah sekedar berbagi apa yang saya baca, amati dan pikirkan saja.

      Tapi tafsir anda yang bagi saya cukup heroik membuat saya mikir: “hmmm.., boleh juga ya”.
      🙂

      Balas
  • 29 Oktober 2015 pada 11:20 pm
    Permalink

    Mas, pada BAB Era Usman: Penyusunan Mushaf Yang Utuh
    tertulis: “Ayat-ayat dalam mushaf disusun tidak berdasarkan urutan kronologi ayat-ayat tersebut diturunkan, akan tetapi berdasarkan petunjuk penempatan dari Nabi yang diingat oleh para sahabat”

    Pertanyaan:
    1. Penempatan atas apa?
    2. Bukankah berarti telah ada tanda2 dari nabi bahwa kelak mushaf ditempatkan seluruhnya (kedalam otak/ kedalam buku) sesuai dengan petunjuk2 nabi?
    3. Lalu kenapa Abu Bakar menolak?

    Balas
    • 30 Oktober 2015 pada 10:16 am
      Permalink

      @Domo: petunjuk Nabi adalah penempatan ayat-ayat dalam satu surah. Sebagai contoh, ayat terakhir yang diterima Rasul (riwayat dalam satu hadis Bukhari) adalah al-Baqarah ayat 278, sedangkan secara keseluruhan al-Baqarah mempunyai 286 ayat. Jika penempatan ayat berdasarkan kronologisnya, maka ayat 278 tersebut mestinya berada di akhir al-Baqarah.

      Secara eksplisit, Nabi tidak pernah memerintahkan untuk menyusun firman Allah (al-Qur’an) tersebut dalam sebuah buku fisik, karena tidak ada perintah eksplisit tersebut, maka Abu Bakar pada awalnya menolak upaya pembukuan Al-Qur’an. Upaya tersebut tidak ada perintahnya dari Nabi dan juga tidak dicontohkan Nabi, itu tindakan bid’ah.

      Balas
  • 31 Oktober 2015 pada 11:12 am
    Permalink

    sebuah wawasan yang mendobrak alam pikir.. entah saya belum menemukan visi misi penulisnya.. apakah ingin merobek robek islam atau ingin mengajak umat islam berpikir lebih cerdas.. kalau ingin membongkar semuanya, maaf nih kok hanya islam lainnya mana ??

    Balas
  • 3 Desember 2015 pada 9:59 am
    Permalink

    Bahkan lebih aneh lagi, Alquran oleh hampir seluruh kaum muslim mengimani bahwa Alquran olah turun dari surga dalam bentuk Kitab. Seolah-olah Kitab ini tidak ditulis padahal nyata-nyata sejak awal Kitab ini ditulis.
    sebagai orang yg pernah sekolah minimal melalui madrasah (bukan pesantren totok) ya tahu lah sejarah turunnya wahyu lalu kemudian dikodifikasi (dibukukan).

    Prosesnya pasti begitu, dan Al Qu’an secara bertahap turun makan waktu 23 tahunan.

    Makanya tepat sekali ketika Allah berfirman, ” sesungguhnya Kami yg menurunkan Az Zikra (the reminder, pengingat ini) dan Kami pula yg sungguh akan menjadi para penjaganya (khafidzun: jamak)”.

    The reminder/ Az zikra tidak tepat diterjemahkan sebagai kitab/ teks saja, namun yg lebih esensial adalah pokok pesannya itulah yg akan dijaga sebagai reminder. Contoh paling mudah adalah pesan tentang Keesaan Tuhan, hal ini dijaga agar tidak pernah lagi terbelokkan alias digagalpahami sebagaimana para pengikut kitab sebelumnya.

    Sekian.

    Balas
  • 8 Desember 2015 pada 11:27 pm
    Permalink

    AL FATIHAH BERASAL DARI YAHUDI
    Orang Yahudi kuno, sebelum Yesus lahir, memiliki doa yg namanya HA PATCHAH dalam bahasa Ibrani, dlm bhs Arab menjadi AL FATIHAH.
    BE SHEM ELAH HA RAHAMIM.
    Bismillahir rahmanir rahim.
    T’HILAH L’ELOHEINU RIBOHN HA-OLAMIM.
    Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.
    HA RAHAMIM.
    Arrahmaanir rahiim
    MELEK YOM HA DIN.
    Maaliki yaumid diin.
    ELEKHA ADONAY EQARA WE EL ADONAY ET HANAN
    Iyyaka na’budu waiyyaaka nasta’iin.
    HEHENI BE ORACH MISHOR.
    Ihdinash shiraatal mustaqiim.
    ALEKHET BE DEREHU WE LEYAREH ITTO LE HALAK BE ETSAH RISHAH WE LA SAGHAH.
    Shiratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin

    Balas
  • 2 Februari 2016 pada 11:50 pm
    Permalink

    Fakta sejarah harus diuji kebenarannya, jangan sampai fakta palsu dianggap benar…

    Para Ulama Islam telah memberikan rambu-rambu dalam pengujian informasi, sehingga informasi itu diklasifikasikan sebagai valid (shahih), lemah / meragukan (dlaif) dan palsu (maudlu).

    Buktikan bahwa fakta anda benar, tidak hanya cukup dikatakan “ada fakta sejarahnya”.

    Balas
    • 3 Februari 2016 pada 10:26 am
      Permalink

      @Siswanto Djumadi: benar sekali bahwa kita harus kritis terhadap informasi sejarah.

      Ulama Islam sudah mengembangkan metode sanad untuk meneliti keaslian sejarah, dan itu digunakan untuk menguji keaslian hadis. Hasilnya 99,3 % hadis yang ada di era Bukhari adalah palsu atau diragukan keasliannya.

      Sayangnya metode ini hanya digunakan untuk hadis, sedangkan banyak sekali kisah-kisah yang muncul di berbagai kitab tafsir dalam kelompok asbabun-nuzul yang justru tak melewati proses penelitian sanad. Juga berbagai kisah yang diriwayatkan sahabat yang tidak dicek dengan metode sanad.

      Bukankah sesuatu benar tidak hanya berdasarkan klaim-klaim (sesuci apapun klaim itu)? melainkan harus juga dicek dari berbagai fakta?

      Balas
    • 12 Mei 2016 pada 10:33 am
      Permalink

      Ini fakta sejarahnya

      Sejarah Aliran Dalam Agama Kristen

      Arianism dan Athanasianism
      Uskup Agung di ibukota Constantinopel, Patriarch Arius (wafat 335 M), menganut keyakinan bahwa Yesus Kristus itu adalah manusia biasa yang menjabat Prophet of God (Rasul Allah) hingga dengan begitu tidak layak Perawan Maria (Virgin Mary) itu di panggil Mother of God (ibu dari Tuhan) karena yang dilahirkannya adalah manusia biasa. Keyakinan yang dianutnya itu sesuai dengan keyakinan kelompok yang dipanggilkan dengan Early Christians (orang Nasrani mula-mula), yakni kelompok kecil pengikut Yesus Kristus (Isa Al Masih) dalam lingkungan orang Yahudi di Palestina, dan kelompok kecil itu pada umumnya musnah pada saat pemberontakan total (65-75 M) bangsa Yahudi di Palestina menantang imperium Roma. Ajaran tentang keyakinan tersebut, sampai kepada masa Patriarch Arius itu, berpusat pada kota-kota besar Antiokia. Dia sendiri adalah bekas murid Paul Samosata dari Antiokia.
      Uskup Agung Alexandria di tanah Egypte(Mesir), yakni Bishop Anthanasius (wafat 373 M), menganut keyakinan bahwa Yesus Kristus itu adalah Son of God (Anak Allah) yang menjelma (inkarnasi) di muka bumi bagi menebus Dosa Warisan (Original Sin), yang diwarisi dari Adam dan Eva, dengan mengorbankan dirinya diatas Tiang Salib (Crucifixation), yang setelah mati bangkit kembali (Ressurection) sesudah tiga hari dan lantas Naik ke Langit (Ascension) dan bersemayam pada sebelah kanan Allah-Bapa. Keyakinan yang dianutnya itu sesuai dengan ajaran Saul, yang dipanggil Paulus, seperti termuat dalam himpunan surat-suratnya (Paul’s Epistles), yang pada masa sekarang, merupakan bagian dari Perjanjian Baru (New Testament).
      Kaisar Constantine (306-337 M) menganjurkan sidang umum gereja bagi menetapkan keyakinan yang resmi di dalam agama Kristen itu. Pada tahun 325 M berlangsung sidang Gereja Sedunia (Konsili) yang pertama-tama dalam sejarah agama Kristen, bertempat di Nicae, sebuah kota di Asia kecil berhadap-hadapan dengan Constantinople, dipisahkan selat Bosporus. Di situ berhadap-hadapanlah uskup-uskup pengikut Arius dengan uskup-uskup Athanasius. Dalil berlawanan dalil tidaklah tercapai persetujuan pendapat. Konsili Nicae tahun 325 M itu pada akhirnya mengambil keputusan berdasarkan jumlah suara (voting). Ternyata uskup-uskup pengikut Athanasius dalam konsili itu merupakan mayoritas, dan, Konsili Nicae lantas menyatakan Arianism itu suatu ajaran sesat (heresy) yang harus di basmi. Patrirch Arius ditangkap dan dijerumuskan ke dalam penjara bawah tanah (dungeon) pada sebuah pulau kecil di selat Bosporus dan meninggal di situ sepuluh tahun kemudian dengan menderitakan ragam siksaan karena tidak mau”taubat” dari keyakinan yang dianutnya itu. Uskup-uskup pengikutnya di basmi, kecuali yang mau belot dari keyakinan tersebut; dan literature pegangan mereka itu dimusnahkan semuanya, sewaktu biara-biara milik aliran Arianism itu di dalam wilayah imperium Roma dirampas dan dikuasai. Pada saat konsili itulah injil-injil yang berjumlah demikian banyaknya disaring, kisah-kisah Rasul disaring, himpunan Surat-surat disaring, kitab-kitab Wahyu disaring; dan akhirnya Konsili Nicae cuma mengakui empat Injil saja dan sebuah Kisah Rasul-rasul dan beberapa buah Himpunan Surat saja dan sebuah kitab Wahyu saja, sebagai Kitab Suci yang Sah (kanonik) sesuai dengan rumusan keyakinan yang diputuskan Konsili Nicae itu, dan selebihnya dipandang Apochrypa dan harus dimusnahkan.
      Kitab Suci yang disahkan Konsili Nicae itulah yang merupakan himpunan Perjanjian Baru ( New Testament), ditulis di dalam bahasa Grik; dan pada abad ke-5 Masehi, uskup Eusebius Hieronymus (340-420 M) menyalinnya ke dalam bahasa Latin, dikenal dengan naskah Vulgata.
      Naskah tertua yang dijumpai sampai kini ialah naskah berbahasa Grik sesudah Konsili Nicae itu, berasal dari Abad ke-4 masehi, yaitu Codex Sinaiticus yang ditemukan pada tahun 1862 M pada sebuah biara tua disemenanjung Sinai; dan naskah-naskah yang lebih tua dari itu tidak dijumpai sampai kini. Sedangkan Isa Al Masih (Yesus Kristus) beserta dua belas muridnya adalah lapisan bawah masyarakat Yahudi pada masa itu, mempergunakan bahasa Aramanik, sebuah dialek Ibrani menjelang abad pertama masehi dan abad-abd berikutnya, dan mereka itu tidak kenal bahasa Grik (Yunani).

      Perubahan Sikap Constantine
      Kaisar Constantine the Great (306-337 M), menjelang akhir hidupnya, berbalik menganut keyakinan Arianism dan mengumumkannya sebagai keyakinan resmi dalam agama Kristen, dan mengumumkan Athanasianism itu adalah ajaran sesat (heresy) yang harus di basmi. Demikian William L. Langer di dalam Encyclopedia of World History cetakan 1956 halaman 119. Uskup Agung Athanasius dibuang oleh Kaisar Constantine ke Tier (Encyclopedia Americana jilid II edisi 1976 halaman 603, Hermigild Dressler).
      Kaisar Julianus (361-363M) menghidupkan kembali pemujaan dewa-dewa (Paganism) dan melakukan tekanan kembali terhadap agama Nasrani dan agama Yahudi. Kaisar Theodosius (379-395 M) berbalik mengumumkan agama Krsiten adalah agama resmi dalam wilayah imperium Roma. Berbeda dengan Constantine, ia berbalik menyatakan ajaran Arianism itu ajaran sesat (heresy) yang harus dibasmi, dan mengumumkan Athanasianism itu adalah keyakinan resmi di dalam agama Kristen. Keputusan Kaisar Theodosius itu berlaku di dalam dunia Kristen sampai kepada masa Nabi Besar Muhammad (570-632 M) dan juga sampai kepada masa kita sekarang ini.

      Balas
  • 28 Juli 2016 pada 7:46 am
    Permalink

    Banyak Fitnah-Fitnah keji yang dilontarkan oleh kaum kafir contohnya tentang kompilasi Al-Qur’an, salah satu fitnah yang dilontarkan adalah fitnah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an pada saat ini tidak sama dengan Al-Qur’an pada jaman Rasulullah SAW. Berikut adalah fitnah thd Al-Quran.

    Quran yang tercecer Menurut Abu Musa Al Asy’ari
    Suwaid ibn Saeed ia berkata bahwaAli ibn Mus’hir berkata kepada kami: Dawood dari Abu Harb ibn abu al-aswad bahwa ayahnya berkata bahwa Abu Musa’ Al-ash`ari berkata: Kami biasa membawakan satu surat, yang panjang dan kerasnya seperti surat Al Baraah, Saya telah lupa kecuali ayat yang saya ingat :“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat” (HR. Muslim)

    Hadits inilah yang kemudian menjadi argumentasi musuh-musuh Islam yang membuktikan Al Quran yang ada sekarang tidak sama dengan Al Quran dizaman Rasulullah Saw. Hadits ini membuktikan bahwa Al-Quran yang ada sekarang tidak lengkap karena ada ayat yang tidak diakomodir didalamnya. Setelah mengemukakan Hadits ini kemudian mereka mencoba menguatkan argumentasi mereka dengan hadits lain

    Anas bin Malik berkata : “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat, dan kepada Allah kembali ia bertaubat” (HR. Muslim)

    Jawaban dari tuduhan ini adalah bahwa hadits yang pertama telah dikategorikan sebagai hadits dhoif dikarenakan sanadnya yang amat lemah, diantara kelemahannya adalah Suwaid ibn Saeed ,Ali ibn Mus’hir, Dawood, tiga orang yang menjadi mata rantai hadits ini dianggap sangat lemah.

    Kesaksian mengenai Suwaid Ibnu Sa’id:
    Bukhari mengatakan Dia hilang penglihatan dan kemudian biasa meriwayat sesuatu yang bukan dia dengar sendiri, dan kejujurannya dipertanyakan. Nasai mengatakan dia tidak dapat dipercaya . (Al-Zahabi , Tazkirah al-Huffaaz)
    Bukhari mengatakan Suwaid amat tidak bisa dipercaya dan perkataannya aneh dan munkar, Ibnu mu’in berkata Suwaid adalah seorang pembohong, imam Ahmad berkata, perkataan Suwaid tidak dapat diterima. (ibid)

    Kesaksian Mengenai Ali bin Mushir:
    Uqaili berkata Ali bin Munshir tidak dapat dipercaya (Uqaili, Dhuafaa al-`uqaili)
    Ibnu Hajar berkata Ali bin Munshir bisa dipercaya namun ia meriwayatkan hadits yang ganjil setelah ia kehilangan penglihatannya. (Ibn Hajar ,Tehzi’b al-tehzi’b)

    Kasaksian mengenai Dawud :
    Imam Ahmad mengatakan cerita Dawud amat membingungkan, dan saling kontradiktif satu dengan yang lainnya, Ibnu Hibban menambahkan cenderung mengalami kesalahan ketika bercerita berdasarkan ingatannya. (Ibid)

    Dari penjelasan mengenai kredibilitas tiga mata rantai sanad saja hadits ini mempunyai kelemahan yang amat besar belum lagi dari matan yang menyebutkan Abu Musa lupa beberapa ayat lainnya, hal ini amat membingungkan bagaimana mungkin hanya ia saja yang bersaksi bahwa riwayat mengenai anak adam ini adalah bagian dari surat didalam Al Quran?

    Betul memang ada riwayat dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasul pernah menyampaikan kalimat tersebut akan tetapi ia tidak pernah menyebutkan bahwa itu merupakan bagian dari Al Quran.

    Anas bin Malik berkata : “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang berisi harta ia pasti berharap ketiganya dan tidak ada yang dapat memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali liang lahat, dan kepada Allah kembali ia bertaubat (HR. Muslim)
    2. Surat Al khal dan Al Hadf
    Mereka kemudian menambahkan bahwa Mushaf Abu Musa Al Asy’ari dan beberapa sahabat lainnya memiliki surat yang kemudian tidak tertulis didalam Mushaf Utsmani.Ubay bin Ka’ab memasukan dua surat tambahan yaitu, al Hafdh dan Al Khal yang tidak tertulis didalam mushaf Utsmani, surat ini juga tertulis pada teks Ibnu Abbas dan Abu Musa.

    Mengenai kesaksian mengenai dua surat yang tercecer di Mushaf Abu Musa, Ibnu Abbas, dan Ubay bin Ka’ab tidak pernah mereka sebut sebagai bagian dari Al Quran, dan tidak ada riwayat yang menyebutkan mereka menganggap itu bagian dari Al Qur’an. Mengenai keberadaan Surat tersebut didalam Mushaf mereka bukan menandakan bahwa hal itu merupakan bagian dari wahyu Allah, berikut terjemahan dari kedua surat tersebut:

    Surat Al Khal
    Allah kami meminta pertolonganmu dan meminta pengampunanmu, dan kami memujimu dan kami bukan termasuk orang yang kafir terhadapmu. Kami berpisah dan meninggalkan orang yang melakukan dosa terhadapmu

    Surat Al-Hadf
    Ya Allah Kami memujimu dan kepadamu kami berdoa dan berserah diri, dan kepadamu kami berlari dan bersegera untuk mengabdi. Kami berharap kepada pengampunanmu dan takut kepada hukumanmu. Hukumanmu akan segera sampai kepada orang-orang kafir.

    Ini adalah terjemahan dari kedua surat yang berada didalam Mushaf sahabat tersebut, yang menarik adalah kedua surat tersebut sama bunyinya dengan bunyi dua doa qunut yang biasa dibaca oleh kaum muslimin yang ada didunia, bahkan rasul sendiri pernah menganjurkan membacanya diakhir sholat witir (Ahmad von Denffer, “Ulum al Qur’an”) , persoalannya apakah segala sesuatu yang tertulis bisa dikatakan bagian dari Al-Qur’an, bukankah Rasul pernah berkata janganlah kalian menulis kecuali Al Quran?

    “Janganlah kalian menulis apa apa dariku, barangsiapa yang menulis dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barangsiapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap siaplah untuk tinggal diatas neraka” (HR Muslim)

    Betul pesan ini memang disampaikan oleh Rasulullah Saw, akan tetapi bukan berarti hal ini kemudian tersampaikan kepada semua sahabat. Ada saja sahabat yang tidak mengetahui Hadits tersebut dan melakukan kekeliruan, bahkan hal ini mempertegas tindakan Zaid bin Tsabit yang tidak mau menerima catatan yang tidak tertulis langsung dihadapan Rasulullah yang didampingi dua orang saksi. Dia berpikir tidak ada satupun jaminan yang bisa diberikan bahwa sahabat tidak salah dalam prosedural penulisan maupun hapalan suatu ayat tertentu.

    Yang menarik adalah Ubay bin Ka’ab yang dikatakan mempunyai Mushaf yang lain dari Mushaf yang ada sekarang justru adalah orang yang ikut menyusun keberadaan Mushaf Utsmani

    Ata berkata : Ketika Utsman memutuskan untuk menyalin Al Quran kedalam naskah tertulis , ia mengirim mereka kepada Ubay bin Ka’ab. Ubay mendiktekan kepada Zaid yang kemudian menuliskannya, dan bersama mereka Sa’id bin Al ‘Ash, yang meneliti teks (berdasarkan Gramar Arab Quraisy). Teks ini berdasarkan bacaan Ubay dan Zayd (HR. Abu Dawud)

    Utsman memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk mendiktekan, Zayd bin Tsabit untuk menulis, Sa’id bin Al Ash dan Abdurahman bin Al Harith untuk meneliti teks kedalam aturan bahasa Arab (HR. Abu Dawud)

    Hadits ini adalah tamparan yang amat keras bagi orang-orang yang menuduh bahwa Ubay bin Ka’ab memiliki Mushaf yang berbeda dari Mushaf Utsmani, bagaimana mungkin ia bisa melewatkan kedua surat ini kedalam Mushaf Ustmani sedang ia sendiri yang membacakannya didepan Zaid?
    3. Permasalahan Ibnu Mas’ud
    Salah satu argumen yang didengungkan kaum orientalis-misionaris adalah bahwa Abdullah bin Mas’ud menolak untuk membakar mushaf yang dimiliki olehnya dengan mengatakan :Bagaimana mungkin kalian menyuruhku membaca qiraat Zayd. Ketika Zayd masih kecil bermain dengan kawan sebayanya saya telah menghafal lebih dari tujuh puluh surah langsung dari lisan Rasulullah (Ibn Abi Da’ud, Kitab a-Masahif)

    Yang menarik dari riwayat ini adalah kita sama sekali tidak melihat satupun riwayat Utsman untuk memaksa Abdullah bin Mas’ud untuk menyerahkan Mushafnya, ini sekaligus memperlihatkan kebijaksanaan Utsman yang kemudian mematahkan tuduhan bahwa Utsman bersikap Aristrokat seperti yang dikatakan Robert Morey, padahal Abu Dawud juga meriwayatkan Abdullah bin Mas’ud mengumumkan kepada pengikutnya (orang-orang yang memegang mushaf Ibnu Masud) untuk tidak menyerahkan Mushaf mereka. Bahkan yang terjadi adalah semua orang mengikuti perintah Utsman untuk membakar Salinan Mushaf miliknya.

    Musab ibnu Sa’ad ibnu Waqqas berkata: “Aku melihat orang-orang berkumpul dalam jumlah yang besar ketika Utsman melakukan pembakaran Quran, dan mereka terlihat senang dengan tindakannya, dan tidak ada satupun yang berbicara menentangnya (HR. Abu Dawud)

    Perkataan “Terlihat senang dengan tindakannya” menunjukkan tidak adanya pemaksaan atau ancaman atas tindakan yang menentang perintah tersebut, tidak ada satupun riwayat yang menyatakan adanya seseorang yang dihukum atas tindakan penentangan terhadap perintah Utsman.

    Bahkan berulang kali Utsman menegaskan bahwa dia tidak menolak bacaan bacaan Quran yang berlangsung secara oral. Yang dia ingin satukan adalah bacaan dalam bentuk tertulis untuk menghindari perpecahan dan penyimpangan makna.

    “Adapun Alquran, saya tidak akan menghalangi kalian, hanya saja saya khawatir bila terjadi perpecahan di antara kalian (sebab perbedaan bacaan Alquran) dan silakan kalian membaca (Alquran) dengan harf yang menurut kalian mudah”. ( Muhammad ‘Abd Allâh Dirâz, Madkhal ilâ al-Qur`ân al-Karîm. (Kuwait: Dâr al-Qalam, 1993), cet. II, hlm. 42)

    Kemudahan yang diberikan Utsman inilah yang kemudian menyebabkan kita dapat menemukan bacaan-bacaan yang bersumber dari Rasulullah Saw walaupun hanya berpegang pada riwayat ahad.

    Apakah penolakan Ibnu Mas’ud merupakan penolakan dikarenakan Mushaf yang dimilikinya berbeda secara substansial dengan Mushaf utsmani. Untuk memperkuat adanya perbedaan itu orientalis-misionaris mengajukan bukti adanya penolakan Ibnu Masud dalam tiga surat yaitu Al fatihah dan al-mu `aw-widhatayn (Annas dan Al Falaq).

    Fakta bahwa Ibnu Mas’ud tidak menerima ketiga surat itu sebenarnya telah ditolak oleh beberapa ulama Islam diantaranya Imam Ibnu Hazm Ulama besar dari Andalusia, ia mendustakan orang yang menisbatkan perkataan penolakan tiga surat tersebut kepada Ibnu Mas’ûd. Karena terbukti dalam qiraat Imam ‘Ashim (salah satu dari tujuh otoritas dalam transmisi qiraat yang mu’tabar) yang berasal dari Ibnu Mas’ûd terdapat bacaan al-Mu’awwidzatain dan al-Fâtihah. (Muhammad ‘Abd Allâh Dirâz, Madkhal ilâ al-Qur`ân al-Karîm. (Kuwait: Dâr al-Qalam, 1993), cet. II)

    Argumen yang menguatkan pendapat Ibnu Hazm diantaranya adalah fakta bahwa tidak ada satupun riwayat yang mengklaim Ibnu Masud tidak memasukkan surat 15: 87 kedalam Mushafnya yang berbunyi:

    وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
    “Dan sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang” (QS. 15:87)

    Jika memang benar Ibnu Masud menolak Al Fatihah tentu penolakan dia akan mengalami kontradiksi dengan apa yang telah dia muat sebelumnya.Sebab siapapun setuju bahwa maksud ayat tersebut adalah surat Al-Fatihah. Jikalau memang Ibnu Masud menolak maka dimana dia taruh tujuh ayat yang berulang-ulang tersebut.?

    Tentu saja bukti yang terkuat adalah dari murid-murid Ibnu Mas’ud sendiri, secara logika jika ada sepuluh orang murid yang belajar pada guru yang sama maka hasilnya akan sama, jika ada satu orang yang berbeda dengan kesembilan orang lainnya tentu saja satu orang ini mungkin mengalami noise dalam penerimaan informasi, sebab jika dia sendiri yang berbeda maka dapat dipastikan dia tidak menangkap pelajaran dengan benar. Logika ini yang kemudian membantah dengan sendirinya pendapat orientalis seperti Jefri yang pertama kali menyerang Mushaf Utsmani dengan membandingkannya dengan Mushaf Ibnu Mas’ud dengan alasan yang kita sudah sebutkan diatas. Ibnu Mas’ud mempunyai beberapa orang murid diantaranya Alqamah, al-Aswad, Masruq, asSulami, Abu Wa’il, ash-Shaibani, al-Hamadani, dan Zirr, semuanya meriwayatkan AI-Qur’an yang mereka terima dari padanya berjumlah sebanyak 114 surah. Hanya salah satu murid Zirr,Asim, satu-satunya yang memberi pernyataan konyol kendati ia mengajarkan seluruh isi kandungan Kitab Suci atas wewenang Ibn Mas’ud. (As-Suyuli, al-Itqan, 1: 221)

    Terakhir sekali ternyata Jeffery orientalis pertama yang menyudutkan peristiwa ini di buku Materials tidak mengungkap sikap menyeluruh dari Abdullah ibn Masud. Padahal dari kedua buku yang diedit oleh Jeffery sendiri, disebutkan bahwa Ibn Masud menimbang kembali pendapatnya yang awal dan akhirnya kembali lagi kepada pendapatUthman dan para Sahabat lainnya. Ibn Masud menyesali dan malu dengan apa yang telah dikatakannya.(Kitab al-Mabani, yang diedit oleh Jeffery pada tahun 1954 menyebutkan Ibn Mas’ud menyesali sikapnya dan menyetujui MushafUthmani. Lihat Arthur Jeffery, Kitab al-Mabani, hlm. 95. Bandingkan juga dengan Kitab al-Masahif, 1: 193-195)
    4. Ayat-ayat Rajam
    “Dan bagi laki-laki tua yang berzinah dan wanita tua yang berzinah, rajam mereka atas kesenangan yang telah mereka perbuat”, Umar bin Khattab berkata “orang-orang akan mengatakan bahwa Umar telah menambahkan sesuatu kepada kitab Allah, jika aku menulis ayat rajam” (True Guidance, p. 61- citing Al-Suyuti’s al-Itqan fii ulum al-Quran on nasikh wa mansukh; Darwaza’s al-Quran Al-Majid)Kita harus menyatakan bahwa ayat rajam merupakan pendapat Umar pribadi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya sesuai kaidah ilmiah yang telah disepakati seperti adanya teks yang mendukung adanya ayat tersebut dan teks tersebut harus ditulis dihadapan Rasulullah disaksikan oleh dua orang. (fathul bahri,Ibnu Hajar)

    Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: `Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah (HR. Abu Dawud)

    Itulah yang menyebabkan kesaksian Umar tertolak sebab begitu Umar ditanyakan argumennya ayat tersebut memang ada dia tidak bisa membuktikannya (Muhammad ibn Muhammad Abû Syahbah, al-Madkhal li Dirâsat al-Qur`ân al-Karîm, (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1992), Cet. I, hlm. 273)

    Memang ada riwayat juga yang menyatakan Aisyah telah menyimpan teks tersebut dan hilang setelah Rasulullah saw meninggal dunia, akan tetapi hal ini juga menjadi pertanyaan sebab kenapa cuma Aisyah yang menyimpan teks tersebut dan mengapa tidak semua orang tahu akan adanya ayat tersebut. Redaksi Umar yang menyatakan bahwa “orang-orang akan mengatakan bahwa Umar telah menambahkan sesuatu pada kitab Allah” membuktikan bahwa ayat ini hanya diketahui oleh Umar, Aisyah dan juga ditambah riwayat Ibnu Abbas. Akan tetapi mengapa hanya tiga orang yang mengetahui ayat ini adalah sangat ganjil sebab rasulullah sendiri ditugaskan untuk menyebarkan seluruh ayat Quran kepada semua manusia sehingga seharusnya ayat ini diketahui banyak orang.

    Adalah kebiasaan Rasulullah Saw untuk meminta penulis wahyu untuk membaca kembali ayat tersebut setelah menuliskannya, menurut Zaid bin Tsabit, jika ada kesalahan dari penulisan dia membetulkannya, setelah selesai barulah Rasulullah Saw membolehkan menyebarkan ayat tersebut. (Majmauz Zawaid, vol.I, p. 60)

    Rasulullah menulisnya dan baru menyebarkannya kepada masyarakat, riwayat ini membuktikan bahwa suatu ayat seharusnya mutawatir (banyak diketahui orang) disamping ada teks yang dapat dipertanggungjawabkan. Kecurigaan bahwa ayat yang dimaksud adalah hadits qudsi, hadits yang memang diturunkan oleh Allah adalah sebuah keniscayaan sebab hadits sudah biasa diriwayatkan dalam keadaan ahad.

    Mungkin ada juga yang berdalih bukankah Zaid sendiri mencari Huzaimah Al anshary dan hanya dia satu-satunya yang mempunyai akhir surat attaubah.?

    “Sampai saya temukan akhir dari surat At taubah pada Abu Khuzaimah Al Anshary yang tidak terdapat pada surat yang lainnya” (HR. Bukhari)

    Pengecualian akhir surah al-Taubah dari kaidah tersebut, disebabkan catatannya hanya ditemukan pada Abî Khuzaimah al-Anshârî dan berdasarkan kemutawatiran hafalannya, sehingga Rasulullah mengatakan kesaksiannya setara dua orang saksi bahwa ayat tersebut ditulis di hadapan Rasulullah. (Shubhî al-Shâlih, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur`ân, (Beirut: Dâr al-‘Ilmi li al-Malâyîn, 1990), Cet. XVIII, hlm. 76)

    “Adapun perkataan Zayd: “Saya tidak menemukannya kecuali pada Abî Khuzaimah”, bukan berarti penetapan Alquran dengan khabar âhâd karena Zayd dan sahabat lain menghafal ayat tersebut dan pencariannya kepada sahabat bertujuan untuk menampakkannya bukan sebagai pengetahuan baru.” (Badr al-Dîn al-Zarkasyî, al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qurân, (Kairo: Dâr Ihyâ al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957), Vol. I, hlm. 296)

    Jadi Zayd sendiri mengetahui ayat tersebut dan berusaha membuktikannya dengan mencari data yang digunakan untuk memperkuat argumennya, hingga catatan yang benar-benar ditulis dihadapan rasulullah ditemukan. Karena Zayd sendiri memang sudah mempunyai catatan ayat tersebut akan tetapi dia tidak punya catatan yang ditulis langsung dihadapan Rasulullah, mengenai kesaksian Abu Khuzaimah yang setara dengan dua orang saksi telah ditegaskan oleh Rasulullah sebelumnya, yang sekaligus membuktikan bahwa proses kompilasi Quran ini telah diprediksi sebelumnya oleh Rasulullah Saw.

    Dari Anas berkata bahwa ketika Nabi meninggal, tidak ada yang telah mengumpulkan Quran kecuali empat para orang: Abu Al-Darda`, Mu’adz bin Jabal, Zayd bin Thabit dan Abu Zayd. (HR. Bukhari)

    Sahih Bukhari Volume 6, Book 60, Number 307:
    Narrated Zaid bin Thabit: When we collected the fragramentary manuscripts of the Qur’an into copies, I missed one of the Verses of Surat al-Ahzab which I used to hear Allah’s Apostle reading. Finally I did not find it with anybody except Khuzaima Al-Ansari, whose witness was considered by Allah’s Apostle equal to the witness of two men. (And that Verse was:) ‘Among the believers are men who have been true to their covenant with Allah.’

    Terakhir dan bukti yang paling kuat adalah mengenai teks yang Umar yang meragukan dan aneh serta tidak sesuai dengan gaya bahasa Quran:

    “Dan bagi laki-laki tua yang berzinah dan wanita tua yang berzinah, rajam mereka atas kesenangan yang telah mereka perbuat”

    Lafadz al-Syaikhu wa al-Syaikhatu sangat meragukan karena berarti adalah laki-laki yang sangat tua dan wanita yang sangat tua atau berusia lanjut hal ini seperti yang ada pada ayat Quran yang lainnya,

    وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ
    Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua (Syaikh) yang telah lanjut umurnya” (QS. 28:23 )

    قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ
    Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua (Syaikhatu) , dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. (QS. 11:72 )

    هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua (Syaikh), di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya). (QS. 40:67 )

    Dari ayat-ayat tersebut diatas tampak kata Syaikh dan Syaikhatu dipergunakan untuk menunjukkan kata laki-laki tua dan wanita tua. Artinya apa? artinya jelas bahwa jika ayat ini dimasukkan berarti hukum rajam bagi pezina hanya diberlakukan bagi laki-laki dan wanita yang sudah berusia tua, oleh karenanya tentu saja teks ini mengundang kritikan keras dari Zaid bin Tsabit yang menyatakan : “Bukankah dua pasang muda yang telah menikah juga dirajam?” (Muhammad ibn Muhammad Abû Syahbah, al-Madkhal li Dirâsat al-Qur`ân al-Karîm, (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1992), Cet. I, hlm. 273)

    Tambahan dari saya, Umar sendiri telah mengakui bahwa Quran telah menyebutkan adanya ayat-ayat rajam. Jadi jika Umar meyakini bahwa ada ayat-ayat rajam yang tidak disebutkan tentulah ini bertentangan dengan pernyataan Umar sendiri:

    Sahih Bukhari Volume 9, Book 92, Number 424t :
    When we reached Medina, ‘Umar (in a Friday Khutba-sermon) said, “No doubt, Allah sent Muhammad with the Truth and revealed to him the Book (Quran), and among what was revealed, was the Verse of Ar-Rajm (stoning adulterers to death).’” (See Hadith No. 817,Vol. 8 )

    Sahih Bukhari volume 8, Book 82, Number 816:
    Narrated Ibn ‘Abbas: ‘Umar said, “I am afraid that after a long time has passed, people may say, “We do not find the Verses of the Rajam (stoning to death) in the Holy Book,” and consequently they may go astray by leaving an obligation that Allah has revealed. Lo! I confirm that the penalty of Rajam be inflicted on him who commits illegal sexual intercourse, if he is already married and the crime is proved by witnesses or pregnancy or confession.” Sufyan added, “I have memorized this narration in this way.” ‘Umar added, “Surely Allah’s Apostle carried out the penalty of Rajam, and so did we after him.”

    Hadis diatas juga hanya menjelaskan kekhawatiran Umar bahwa suatu saat orang-orang akan mengatakan bahwa ayat-ayat rajam tidak diturunkan (diwahyukan) dalam Quran tapi hanya melalui hadis. Ini saja pengertian dari hadis diatas. Kenyataannya hukum rajam telah disebutkan dalam hadis.

    Related Article: What about missing verse on stoning? (rajam)
    5. Laporan dari Suyuthi dalam Al-Itqan
    Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab 33 : 56 pada masa Nabi adalah LEBIH PANJANG yaitu dibaca “Wa’ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal” selepas “Innalla ha wa Mala’ikatahu Yusalluna ‘Ala al-Nabi…” Aisyah berkata,”Yaitu sebelum USMAN MENGUBAH mushaf-mushaf.”Aisha dilaporkan menyatakan bahwa saat nabi SAW hidup, sura 33 (al-Ahzab) adalah 3 kali lebih panjang daripada yang ada dalam mushaf Usman.Sumber :
    * Al Raghib al Isfahani, Muhadarat al Udaba, vol 4 p 434
    * Suyuti, al Durre Manthur, vol 5 p 180
    * Suyuthi, al Itqan fi ulum al Quran, vol 1 p 226

    Kutipan dari Suyuthi :
    Aisyah berkata, “Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAW SEBANYAK 200 AYAT, tetapi pada masa Usman menulis mushaf surah tersebut TINGGAL 173 AYAT SAJA.”

    Sanggahan
    * pertama yaitu kitab Suyuti bukanlah buku sumber, sehingga sebenarnya buku ini tidak bisa dijadikan dasar argumentasi. Kenapa demikian adalah karena didalam buku ini tidak ada sanad, dan sesuatu yang tidak mempunyai sanad tidak dapat dijadikan dasar argumentasi.
    * Kedua, sebagai bukti bahwa buku Suyuti ini mengandung kekeliruan adalah ketika menceritakan tentang berbagai macam perbedaan bacaan (lebih kurang 40 bacaan) dari berbagai macam sumber pada kitab “Al-Ittiqaan fi `uloom al-Qur’an” pada kitab sesudahnya imam suyuti yaitu “Tafsir al-Hawaalik” beliau justru mengakui bahwa tidak ada satupun riwayat tersebut yang dapat diterima !!!.
    * Ketiga, kalaupun riwayat itu diterima hal itu tidak bisa dibenarkan secara ilmiah karena sesuatu yang hanya berdasarkan pendapat satu orang tidak dapat dijadikan bukti, karena didalam Islam selain Qur’an juga ada yang dikenal sebagai hadits qudsi yang secara redaksional hampir mirip dengan Al Qur’an.
    * Keempat mengenai Aisyah sumber yang sahih seperti yang saya kutip diatas menunjukkan bahwa apa yang ditulis oleh Aisyah sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Zaid dan sahabat yang lain karena Zaid menulis dihadapan nabi Muhammad, sedangkan Aisyah menulis setelah mendengar dari nabi, sesuatu yang tidak mustahil bahwa persepsi Aisyah itu adalah pendapat pribadi pada ayat itu dan bukan pada keberadaan/entitas ayat itu sendiri.

    Akhirnya nampak jelas bagi kita segala argumentasi kaum pagan tentang Al Quran menjadi terhempas dan semakin redup dibawah terang nya cahaya Quran dan nampaklah bahwa Quran merupakan wahyu Allah yang terjaga sampai akhir zaman nanti.

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. 15:9)

    Balas
    • 28 Juli 2016 pada 10:18 am
      Permalink

      @Tri Mulat: Inti komentar anda apa? saya tak tertarik bacanya, dan mungkin yang lainnya juga tak baca. Mohon tuliskan dengan jelas poin-poinnya, baru jabarkan argumennya.

      Balas
  • 16 Agustus 2016 pada 1:25 pm
    Permalink

    Saya akan percaya kata-kata anda itu benar jika ada orang atau saksi yang mengatakan bahwa anda itu jujur dan benar. Atau teman-teman kecil anda mengatakan bahwa anda orang jujur. Ada orang yang melihat anda dari kecil sampai besar tidak pernah bohong atau berdusta. Atau teman-teman sekolah anda mengatakan bahwa anda orang jujur atau orang benar. Atau tetangga anda mengatakan bahwa anda orang jujur dan orang benar. Atau banyak orang mengatakan bahwa anda orang jujur.

    Balas
    • 16 Agustus 2016 pada 1:55 pm
      Permalink

      @Tri Mulat: anda gak percaya juga gak apa-apa kok 🙂

      Saya menyampaikan informasi sejarah, ada rujukannya.
      Sejarah tidak akan berubah lantaran disampaikan oleh saya atau orang lain, baik anda percaya atau tidak percaya.

      Balas

Perkaya Tulisan Ini Dengan Pendapat Anda

Paling Dikomentari

Paling Dibaca

Pilihan Acak

%d blogger menyukai ini: